Page 279 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 279
Aku memajukan tubuh, mencoba mengendus aroma dari
mangkuk mi ayamnya. Benar saja, aroma tak sedap menguar,
bumbu ayamnya sudah basi.
"Bang, ini mi lo basi!" seru Farras setengah berteriak ke arah
penjual dengan nada yang meninggi.
Aku terdiam, mengerti betul mengapa emosinya tersulut.
Bayangkan saja, setelah seharian didera lelahnya pekerjaan dan
didera rasa lapar yang tertahan, mendapati makanan yang dinanti
ternyata tak layak konsumsi tentu menyakitkan. Di sisi lain,
sejujurnya aku selalu merasa agak takut dan tidak nyaman setiap
kali melihatnya dilingkupi amarah.
Si penjual mi ayam bergegas mengganti hidangan tersebut
dengan yang baru, meski ia berdalih bahwa mie-nya lah yang
bermasalah, padahal aku tahu pasti bahwa kesalahan terletak
pada ayamnya. Ketika mangkuk baru datang, Farras mencoba
menyantapnya lagi dengan sisa-sisa kekesalan yang tertinggal.
Hasilnya sama saja, rasanya tidak berubah. Aku langsung
melarangnya untuk melanjutkan makan demi kesehatan
perutnya.
Akhirnya, ia beralih menyantap sate padangku. Namun,
karena rasa laparnya belum tuntas dan dengan dalih tidak ingin
279

