Page 274 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 274

Bagiku,  hari  Kamis  bukan  sekadar  penutup  hari  kerja,

          melainkan  sebuah  gerbang  menuju  salah  satu  momen  paling

          kunantikan  pekan  ini.  Agenda  selepas  melepas  penat  di  kantor
          selalu sama, namun tak pernah gagal membuat hatiku berdesir:

          berbuka puasa bersama laki-laki tertampan di semestaku.
               Sore  itu,  Jakarta  kembali  memamerkan  wajah  aslinya.

          Jalanan  ibu  kota  terkunci  rapat  oleh  lautan  kendaraan  yang

          merayap  statis.  Entah  mengapa,  sore  itu  kemacetan  terasa
          berkali-kali lipat lebih jenuh dari biasanya, seolah seluruh pasang

          roda  enggan  bergerak  pulang.  Menyadari  situasi  yang  tidak

          kondusif,  jemariku  bergerak  di  atas  layar  ponsel,  mengirimkan
          pesan  kepada  Farras  agar  ia  tak  perlu  bersusah  payah

          menjemputku.

               Tak  butuh  waktu  lama,  sebuah  balasan  singkat  masuk  ke
          ponselku.

          "Kamu buka puasa dulu aja ya, bos ngereog,"   tulisnya.

          Aku tersenyum tipis, membayangkan betapa melelahkannya hari
          yang ia lalui di bawah tekanan pekerjaannya.

               Ketika  gema  adzan  magrib  akhirnya  berkumandang

          membelah langit senja, aku duduk di meja makan yang terletak di
          ruang tengah kostku untuk berbuka puasa ditemani oleh Popay.

          Mungkin  karena  rasa  lapar  yang  tertahan  atau  sekadar


                                                                        274
   269   270   271   272   273   274   275   276   277   278   279