Page 271 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 271
kalimat meluncur dari bibirnya tanpa jeda, dipenuhi rasa khawatir
yang membuncah. Dia marah besar, mempertanyakan bagaimana
bisa aku nekat pergi ke Balai Kartini sendirian tanpa
mengabarinya. Isu keselamatan, ketakutan jika terjadi kecelakaan
di jalan tanpa dia ketahui, hingga tuduhan mengapa aku
berbohong, mengingat sebelumnya aku sempat menyinggung soal
,
opsi online semuanya tumpah ruah. Dia terus mengomel, tak
memberiku celah sedikit pun untuk membela diri. Namun
anehnya, alih-alih kesal, hatiku justru menghangat. Ada rasa
gemas yang membubung tinggi melihatnya sefrustrasi itu demi
aku. Ya, panggil aku aneh, tapi aku adalah tipe perempuan yang
gemar dikekang dalam batasan-batasan penuh kasih seperti ini. Di
dalam omelannya yang berisik, aku justru merengkuh rasa aman
yang luar biasa. Aku merasa begitu dicintai, begitu dijaga, dan
begitu berharga di matanya.
"Aku di kost, kok. Aku ikut seminar via Zoom aja," potongku
akhirnya, berusaha meredam badai kecemasannya dengan tawa
kecil yang kutahan.
Begitu kalimat itu lolos dari bibirku, seberang telepon
mendadak hening. Keheningan yang sarat akan rasa lega, seolah
beban berat di pundaknya baru saja diangkat paksa. Waktu
merambat naik, dan tepat pukul delapan pagi, aku meminta izin
271

