Page 268 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 268

menghela napas berkali-kali. Tak lama, Farras muncul dari sudut

          belakang, ternyata kami parkir di arah yang berlawanan dengan

          pintu masuk tadi.
               Malam  harinya,  setelah  sampai  di  rumah  masing-masing,

          percakapan kami berlanjut di ruang chat. Untuk pertama kalinya,
          aku memberanikan diri membawa topik yang lebih serius.

          "Kapan target nikah?"  tanyaku.

               Aku memintanya untuk menunda membeli furnitur rumah
          dan  mulai  fokus  menabung  jika  memang  ia  serius  ingin

          meminangku. Farras sempat membela diri, katanya kalau sudah

          menikah nanti, kita sudah punya rumah yang siap huni dengan
          isinya. Namun, aku menyanggah, mengatakan bahwa furnitur bisa

          dibeli nanti menggunakan uang amplop pernikahan. Setelah debat

          panjang,  egonya akhirnya melunak.  Ia  setuju.  Ia berjanji semua
          bonus  Maret  nanti  akan  ditransfer  kepadaku  untuk  ditabung

          bersama.  Meski  sesekali  ia  masih  merayu  karena  sangat

          menginginkan  kitchen  set seharga  Rp7  juta  itu,  aku  tetap  pada

          pendirianku.

          "Yaudah terserah kamu, kan itu uangmu. Aku hanya kasih saran,"

          kataku.
          "Ini uang kita,"  imbuhnya, sebuah kalimat pendek yang sanggup

          meruntuhkan sisa-sisa kesal di hatiku.


                                                                        268
   263   264   265   266   267   268   269   270   271   272   273