Page 285 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 285

Keesokan  harinya,  untaian  cerita  itu  terurai  melalui  chat

          darinya.  Dengan  rasa  bersalah,  Farras  berkisah  bahwa  selepas

          nongkrong bersama temannya, malamnya berlanjut ke lapangan
          futsal. Ia menghabiskan sisa malam untuk merajut kembali tawa

          bersama teman-teman masa kuliah dan sahabat-sahabat lamanya.
          Ada raut sesal di wajahnya karena telah membiarkanku terjebak

          dalam penantian.

               Aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu, bahkan ada
          rasa hangat yang membuncah di dalam batin. Aku justru merasa

          sangat bahagia. Jauh di lubuk hati, aku tahu betapa hidupnya telah

          habis  tersita  oleh  tumpukan  pekerjaan.  Farras  hampir  tidak
          memiliki ruang untuk kehidupan sosial, lingkaran pertemanannya

          begitu sempit. Bahkan, acap kali ia hanya menghabiskan waktu


          luang  untuk  sekadar  nongkrong  bersama  para  office  boy di
          kantornya.  Sebuah  pemandangan  yang  jujur  saja  sering

          membuatku  heran  sekaligus  tersentuh  oleh  kesederhanaannya.

          Malam  itu  adalah  kali  pertama  aku  mendapati  dirinya  kembali
          membaur,  berlari,  dan  tertawa  lepas  bersama  teman-teman

          sebayanya.  Melihatnya  memiliki  dunianya  kembali,  rasanya

          sungguh melegakan.
               Kebahagiaan  kecil  itu  kian  lengkap  saat  ia  mengirimkan

          sebuah foto bersama teman-temannya di lapangan futsal. Mataku


                                                                        285
   280   281   282   283   284   285   286   287   288   289   290