Page 288 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 288
kunjung datang. Ammar menghilang. Pesanku hanya centang dua
tanpa balasan.
Rasa kesal mulai menjalar dari ulu hati. Ini bukan sekadar
tentang hujan, tapi tentang rasa tidak dihargai. Selama ini,
hidupku bersamanya terasa seperti garis lurus yang
membosankan, yaitu hanya kerja, pulang, dan tidur. Kehidupan
sosialku menguap sejak kami bersama. Jangankan liburan singkat
atau healing ke tempat yang indah, pertemuan kami biasanya
hanya habis untuk makan satu jam, lalu dia akan memintaku
pulang.
"Nggak usah jadi saja kalau begini caranya! Aku mau pergi sama
teman-temanku saja," tulisku dengan jemari yang gemetar karena
emosi. Aku mem-spam kolom chat-nya dengan segala keluh kesah
yang selama ini kupendam.
Tak butuh waktu lama, ponselku meledak dengan balasan.
Kalimat-kalimat dengan huruf kapital memenuhi layar. Kata-kata
kasar meluncur tanpa filter dari jemarinya. Dadaku terasa sesak,
seolah pasokan oksigen di kamar ini tiba-tiba menipis. Ini bukan
pertama kalinya dia lepas kendali, tapi entah mengapa, kali ini
rasanya jauh lebih menyakitkan. Ada sesuatu yang patah di dalam
sana.
288

