Page 291 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 291
Di bawah langit yang mulai cerah, Ammar mulai bercerita. Ia
menunjuk beberapa nisan di sekelilingnya. Ternyata, di liang yang
sama atau berdekatan, ada empat anggota keluarganya yang
beristirahat. Ia menceritakan silsilah keluarga, tentang masa
kecilnya, dan bagaimana satu per satu orang yang ia cintai pergi
meninggalkannya.
Momen itu membawa keajaiban kecil. Ketegangan di antara
kami perlahan mencair. Kami sempat bercanda tipis,
menertawakan hal-hal kecil untuk mengusir sisa-sisa kesedihan.
Aku menyadari satu hal: hubungan ini memang rumit dan
mungkin tidak sehat. Namun, di antara luka dan amarah, ada sisi
kemanusiaan yang membuat kita sulit untuk benar-benar
membenci. Sore itu, meski masa depan kami masih menjadi tanda
tanya besar, setidaknya untuk sejenak, kami menemukan
kedamaian di antara nisan-nisan yang bisu.
Sebelum roda kendaraan benar-benar membawa kami
kembali ke realitas masing-masing, ia mengajakku menepi. Kami
berhenti di sebuah kedai soto mie Bogor yang mengepulkan uap
panas. Di atas meja kayu yang sederhana, dua porsi soto mie dan
segelas es teh manis menjadi saksi bisu di antara kami. Tidak ada
percakapan hangat; hanya bunyi denting sendok yang beradu
dengan mangkuk, memecah kecanggungan yang terasa kaku dan
291

