Page 295 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 295
nyombongin diri juga ngga apa-apa. Anggap saja ini bagian dari
caramu membangun personal branding."
Aku sempat tertegun, menarik napas panjang. Sejujurnya,
aku tidak memiliki cadangan energi yang cukup untuk sekadar
mencari validasi dari mata-mata asing. Namun, melihat dia
berkata bagaimana dia membanggakanku di depan teman-
temannya, sebuah motivasi kecil mulai mekar di sudut hati.
"Aku ngejual kamu tuh tinggi banget gin depan teman-teman
kantorku. Walaupun aku ngga pernah upload soal kamu di
sosmed, tapi aku selalu banggain kamu depan mereka” tambahnya
meyakinkan. Aku hanya bisa mengangguk pelan, luluh oleh
ketulusannya apalagi saat dia berkata bahwa dia ingin aku
mengetahui bagaimana lingkungan tempat kerjanya.
Malam harinya, selepas lelah bekerja, ia kembali mengajakku
bertemu. Rencana awal untuk berbuka puasa bersama pun kandas
karena beban kerjanya yang memaksa ia pulang terlambat. Aku
sudah menyelesaikan buka puasaku di kost dengan porsi yang
cukup mengenyangkan, bahkan rasa kantuk mulai menjemput
saat jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. Namun, dering telepon
darinya memecah sunyi. Ia memintaku menemaninya makan
malam dengan nada yang sulit untuk kutolak.
295

