Page 290 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 290

Kami  duduk  bersimpuh  di  samping  gundukan  tanah  yang

          basah. Aku menyuruh Ammar memulai tahlil. Aku mengirimkan

          tautan surat Yasin ke ponselnya agar ia bisa membacanya dengan
          runtut. Suara Ammar mulai terdengar, bergetar di sela-sela ayat

          yang ia lantunkan.
               Aku  menyusul  dengan  doa-doa  setelah  Yasin,  sementara

          Ammar  mulai  melakukan  ritual  terakhirnya.  Ia  menggenggam

          plastik  bunga,  menaburkannya  dengan  perlahan  di  atas  pusara
          ibunya. Gemericik air mawar yang ia tuangkan terdengar seperti

          bisikan rindu yang teramat dalam.

               Saat  sampai  pada  Al-Fatihah  terakhir,  pertahanannya
          runtuh. Pria yang beberapa jam lalu memaki dengan huruf kapital

          itu  kini  tersedu-sedu.  Tangisnya  pecah,  suara  isak  yang  begitu

          menyayat  hati.  Tanpa  sadar,  aku  mengesampingkan  rasa  sakit
          hatiku.  Aku  mendekat,  memeluk  bahunya  yang  bergetar  hebat,

          dan menyeka air matanya.

               Aku  mengerti.  Kehilangan  ibu  adalah  kehilangan  kompas
          kehidupan. Jika aku berada di posisinya, duniaku pun pasti akan

          terasa  runtuh.  Di  depan  makam  ini,  egoku  melunak.  Aku

          melihatnya  bukan  sebagai  pria  kasar  yang  membuatku  sesak,
          melainkan sebagai seorang anak yang sangat merindukan pelukan

          ibunya.


                                                                        290
   285   286   287   288   289   290   291   292   293   294   295