Page 289 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 289
"AKU CAPEK! TERSERAH MAU PUTUS ATAU NGGAK. KITA KE
MAKAM DULU!" tulisnya terakhir.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar
jantung yang tak beraturan. Calm down, bisikku pada diri sendiri.
Aku memutuskan untuk menerima ajakannya, bukan karena aku
masih menginginkannya, tapi karena aku berharap ini akan
menjadi titik akhir yang layak. Aku ingin perjalanan ke makam ini
menjadi pertemuan terakhir kami.
Pukul 10.00 WIB, motor Ammar berhenti di depan rumah.
Saat aku keluar, ia mencoba mengulas senyum, sebuah gestur
pura-pura seolah badai kata-kata kasar beberapa jam lalu tidak
pernah terjadi. Aku hanya diam. Di sepanjang perjalanan menuju
pemakaman, kebisuan menjadi kawan setia. Hanya deru mesin
dan sisa-sisa rintik hujan yang terdengar. Namun, keheningan itu
pecah saat dia mulai bicara dengan nada yang kembali meninggi,
mengungkit masalah tadi pagi. Aku hanya menatap jalanan yang
basah, menahan sesak yang menggumpal di tenggorokan.
Setibanya di area pemakaman yang becek, aku melangkah
menuju penjual bunga. Membeli sekantung kembang tujuh rupa
dan sebotol air mawar. Wanginya yang khas menyeruak,
membawa suasana melankolis yang semakin kental.
289

