Page 372 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 372

angin yang tak sudi memulangkannya. Mamah di rumah mungkin

          menyadari  kejanggalan  ini.  Beliau  kerap  kali  menatapku  lama,

          dengan  pendar  mata  yang  menyiratkan  ribuan  tanya  sekaligus
          simpati dan iba yang mendalam. Meski di hadapannya, aku selalu

          berusaha  keras  memoles  senyum,  merias  wajahku  sedemikian
          rupa demi menyembunyikan retakan-retakan jiwa yang kian hari

          kian hancur.

               Saat ini, batinku terbelah secara brutal menjadi dua kutub
          yang saling bertubrukan dan tarik-menarik. Aku berdiri bimbang

          di  sebuah  persimpangan  yang  paling  menyesakkan,  antara

          memaksakan  diri  yang  sudah  babak  belur  ini  untuk  terus
          melangkah maju bersama Farras, atau menyerah pada takdir dan

          menghentikan  segalanya  di  sini.  Jika  aku  memaksa  untuk  tetap

          menapaki  jalan  berduri  ini  bersama  Farras,  ada  ketakutan  luar
          biasa yang mencekik leherku hingga aku seolah kehabisan napas.

          Aku  teramat  sangsi  bahwa  lakon  ini  akan  berjalan  mulus  pada

          akhirnya. Semesta seolah tak lagi berbisik, melainkan berteriak
          memberiku sinyal yang begitu benderang. Jawaban atas malam-

          malam  istikharahku  turun  dengan  begitu  cepat,  seakan  Tuhan

          sendiri  yang  turun  tangan  untuk  menahanku,  berpesan  dengan
          tegas bahwa jalan yang kutempuh bersama Farras adalah sebuah

          lorong buntu yang gelap.


                                                                        372
   367   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377