Page 430 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 430

Siang ini, aku terjebak dalam dilema yang hebat. Ada rasa

          sesak yang menghimpit tiap kali aku memikirkan Jovan. Aku takut,

          takut  jika  pertahananku  runtuh  dan  aku  mulai  menaruh  rasa
          padanya.  Selama  ini,  aku  membangun  benteng  setinggi  langit,

          membatasi  komunikasi  dengan  pria  lain  hanya  demi  menjaga
          sebuah hati yang mungkin saja sudah tidak diinginkan lagi oleh

          Farras.


               Saat akhirnya aku mengetik kata "Iya" untuk ajakan Jovan
          nanti  malam,  air  mataku  luruh  tanpa  permisi.  Dadaku  nyeri,

          seolah-olah  aku  baru  saja  mengkhianati  sesuatu  yang  suci.

          Padahal, yang aku inginkan hanyalah pulang. Pulang ke rumahku
          yang sesungguhnya: Farras. Aku ingin menangis sejadi-jadinya di

          pelukannya, meruntuhkan segala beban di pundaknya. Namun, ia

          masih di sana, berdiri di balik tembok defensif yang tak mampu
          kutembus.

               Sepulang  kerja,  keraguan  itu  masih  membayangi.  Apakah

          aku harus pergi atau kembali mencari alasan untuk menghindar?
          Ponselku  terus  bergetar.  Jovan  memastikan  berkali-kali,  seolah

          takut  aku  akan  menghilang.  Akhirnya,  aku  membulatkan  tekad.

          Jakarta sedang dalam cuaca yang membakar, ditambah lagi jadwal
          pemadaman listrik massal pada pukul 20.30 hingga 21.30 WIB





                                                                        430
   425   426   427   428   429   430   431   432   433   434   435