Page 433 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 433
Pukul 21.05 WIB, kami berada di kegelapan bioskop,
menduduki kursi A14 dan A15 di barisan paling belakang. Film
thriller pembunuhan itu mulai diputar. Sesekali kami berbisik di
tengah adegan mencekam, namun pikiranku melayang jauh.
Terasa sangat aneh menyadari bahwa pria yang duduk di
sampingku, yang baunya berbeda, yang tawanya berbeda,
bukanlah Farras.
Pukul 23.00 WIB, saat lampu bioskop menyala, aku langsung
meminta pulang. Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta, aku
hanya diam membisu. Topeng perempuan ceria dan cerewet yang
biasanya kukenakan kini retak total. Energiku habis. Aku tidak
peduli lagi apakah Jovan akan menganggapku membosankan atau
aneh. Aku hanya ingin cepat sampai kost.
"Aku mengantuk," kataku singkat, dan ia cukup peka untuk tidak
bertanya lebih lanjut.
Pukul 23.50 WIB, mobilnya berhenti di depan kost. Sebelum
turun, tanpa sadar aku meraih tangannya dan menciumnya.
Sebuah gestur otomatis yang selalu kulakukan saat berpamitan
dengan Farras. Kebiasaan yang menyakitkan. Tanpa kata
tambahan, aku langsung melangkah masuk.
Biasanya, aku akan mengirim pesan "Hati-hati di jalan" atau
"Terima kasih" begitu sampai di kamar. Namun malam ini,
433

