Page 445 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 445

berbunyi. Ia mengangkatnya, lalu seketika terdiam dengan wajah

          yang memucat.

          "Kenapa?"  tanyaku cemas.
          "Papaku jatuh lagi, beliau ada demensia,"  jawabnya dengan nada

          suara yang bergetar menahan panik.
          Tanpa  perlu  banyak  kata,  kami  segera  menyelesaikan  makan

          malam yang belum sepenuhnya tuntas. Kami memutuskan untuk

          pulang saat itu juga.
               Dalam perjalanan pulang yang sunyi, aku merenung. Malam

          ini,  aku  melangkah  keluar  bukan  karena  debar  jantung  atau

          perasaan yang istimewa. Aku melakukannya semata-mata karena
          sebuah  janji  dan  rasa  hormat  pada  waktu  yang  ia  berikan.  Di

          antara  lampu-lampu  Jakarta  yang  mulai  menjauh,  aku  sadar

          bahwa pertemuan ini hanyalah sebuah perpisahan manis tanpa
          ikatan rasa. Aku hanya menganggapnya sebagai kaka.
















                                                                        445
   440   441   442   443   444   445   446   447   448   449   450