Page 443 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 443

Sembari  menunggu  Ronny  menempuh  perjalanan  dari

          Jakarta Utara, aku meminta pendapat Ka Retha dan Popay soal alas

          kaki. Pilihan akhirnya jatuh pada sepasang Docmart broken white
          yang senada.

          "Mau pergi sama gebetan yang mana lagi?"     goda Ka Retha sambil
          memperhatikan penampilanku.

          "Ronny, Kak. Masa dia ngajak Cibet (panggilanku) jalan tapi dia

          sendiri sedang puasa,"  celetuk Popay menyambar.
          "Dia Chinese ka, ngga tau puasa apa,"  tambahku membela situasi.

          "Kenapa sih Dek, lo ngga jauh-jauh dari orang Chinese?"   Ka Retha

          bertanya  sembari  tersenyum  penuh  arti,  sadar  betul  akan  pola
          laki-laki  yang  selalu  mendekatiku.  Aku  hanya  membalasnya

          dengan  senyum  tipis,  sebuah  jawaban  retoris  yang  kusimpan

          sendiri.
               Tiba-tiba, ponselku berdering lagi. Nama Pak Syarif muncul.

          Beliau adalah Wakil Gubernur Sulawesi yang memintaku menjadi

          pembimbing  tesisnya.  Sebuah  ajakan  diskusi  di  Jakarta  Pusat
          sekaligus makan malam bersama Ka Rizka dan Popay terlontar

          dari  seberang  telepon.  Ada  rasa  sesak  karena  harus  menolak

          tokoh sepenting beliau, namun janji dengan Ronny sudah terkunci.
          Ia sudah dalam perjalanan, dan aku bukan tipe orang yang tega

          membatalkan janji di menit-menit terakhir.


                                                                        443
   438   439   440   441   442   443   444   445   446   447   448