Page 444 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 444

Sekitar pukul 19.00 WIB, sebuah mobil putih yang sangat

          kukenali merapat di depan kos. Aku segera turun menemuinya.

          Ronny  tampak  berbeda;  rahangnya  lebih  tirus.  Ia  mengaku
          kehilangan berat badan sebanyak 4 kilogram sejak terakhir kami

          bersua.  Di  dalam  kabin  mobil  yang  sejuk,  percakapan  kami
          mengalir  di  luar  dugaan.  Alih-alih  obrolan  ringan,  kami  justru

          terjebak  dalam  diskusi  berat  tentang  stabilitas  Indonesia,

          dinamika  politik,  hingga  ancaman  krisis  global  yang  mulai
          membayangi  negeri.  Topik  yang  cukup  menguras  otak  untuk

          malam  minggu,  namun  anehnya,  aku  mampu  mengimbanginya

          dengan apik. Malam itu, aku menjelma menjadi versi diriku yang
          intelektual dan anggun, meninggalkan sosok Gina yang biasanya

          ceria dan tak bisa diam.

               Kami  berlabuh  di  Mall  Basura.  Saat  melangkah  masuk,  ia
          tampak tertegun melihat skala mal tersebut.

          "Gini aja, Gin?"  tanyanya seolah mengharapkan sesuatu yang lebih

          megah.
          "Ini  masih  lumayan,  Koh.  Tadi  kamu  malah  mau  mengajak  ke

          Cipinang, itu jauh lebih kecil dan sepi”,   jawabku sambil terkekeh.

               Kami  menuju  sebuah  restoran  agar  ia  bisa  membatalkan
          puasanya.  Di  antara  suapan  makanan,  tawa  sesekali  pecah.

          Namun, suasana hangat itu mendadak luruh saat ponsel Ronny


                                                                        444
   439   440   441   442   443   444   445   446   447   448   449