Page 448 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 448
Sepanjang perjalanan, dia mulai berkisah tentang
kondisinya. Aku hanya menyimak dalam diam. Bagaimana aku
bisa menjadi sandaran baginya, sementara kakiku sendiri gemetar
menopang beban yang tak kalah berat?
"Andai saja dia tahu bahwa masalahku lebih besar darinya,"
gerutuku dalam hati.
Motor melaju menjauhi Jakarta, membelah jalanan menuju Bekasi.
Kebiasaannya yang tak pernah berubah, dia selalu enggan
membawaku ke hiruk-pikuk ibu kota.
"Mau ke mana? Aku rencananya mau beli J.CO di mall Cipinang
Indah," seruku di balik deru angin.
"Kita makan dulu ya, di sana juga ada toko donat enak," jawabnya
tenang.
"Aku maunya J.CO saja yang sudah pasti."
"J.CO sudah biasa, ini lebih enak. Pasti suka deh," paksanya lembut.
Sekali lagi, aku menyerah pada egonya. Aku memeluknya erat di
sepanjang jalan, bukan karena rasa sayang yang meluap,
melainkan karena aku sadar ini mungkin pelukan terakhir
sebelum aku benar-benar mengikhlaskannya. Kami berbicara
seperti biasa, namun jiwaku merasa sedang berhadapan dengan
orang asing. Jarak antara hati kami terasa ribuan kilometer. Tak
ada lagi rasa nyaman yang dulu sempat menjadi rumah. Farras
448

