Page 37 - Islamic-theology-Ibnul-Jawzi-membongkar-kesesatan-akidah-Tasybih-meluruskan-penyimpangan-dalam-memahami-sifat-sifat-Allah-Nurul-Hikmah-Press-173-Hal
P. 37

Islamic Theology  | 29


           “asy-Syiddah” (kesulitan)”.  Mereka  berkata:  “Kita  memberlakukan
           kandungan semua teks tersebut dalam makna zahirnya”.

                  Padahal makna zahir teks-teks tersebut adalah sifat-sifat yang
           berlaku pada manusia. Benar, sesungguhnya dasar teks-teks itu harus
           dipahami dalam makna zahirnya jika itu dimungkinkan [artinya jika
           tidak ada perkara yang menuntutnya untuk ditakwil], namun jika ada
           tuntutan  takwil  maka  berarti  teks  tersebut  bukan  dalam  zahirnya
           tetapi  dalam  makna  majâz (metaforis).  Ironisnya,  dan  ini  sangat

           mengherankan, mereka mengaku sebagai orang-orang yang jauh dari

           keyakinan tasybîh, bahkan mereka sangat marah jika akidah tasybîh
           tersebut  disandangkan  kepada  mereka,  mereka  berkata:  “Kami
           adalah Ahlussunnah”.
                  Sesungguhnya  pernyataan  mereka  bahwa  teks-teks

           mutasyâbihât harus  dipahami  dalam  makna  zahir  pada  dasarnya
           adalah pemahaman tasybîh  . Yang sangat menyedihkan ialah bahwa
           mereka  ini  diikuti  oleh  orang-orang  awam.  Aku  telah  menasehati
           mereka semua; baik orang-orang yang diikuti, maupun mereka yang
           mengikuti. Aku katakan kepada mereka: “Wahai saudara-saudaraku,
           kalian  adalah  para  pengikut  teks-teks  syari„at  (Ash-hâb  an-Naql).
           Imam besar kalian; Ahmad bin Hanbal --semoga rahmat Allah selalu
           tercurah  baginya--  di  bawah  pukulan-pukulan  cambuk  berkata:
           “Bagaimana  mungkin  aku  mengatakan  sesuatu  yang  tidak  pernah
           dinyatakan  oleh  Allah  dan  Rasul-Nya?”.  Karena  itu  kalian  jangan
           membuat  ajaran-ajaran  aneh  dalam  madzhab  suci  ini  yang  nyata-
           nyata bukan bagian darinya.
                  Kalian berkata dalam menyikapi hadits-hadist mutasyâbihât:
           “Kita  harus  memahami  semua  teks  itu  dalam  makna  zahirnya”.
           Padahal sesungguhnya makna zahir dari “qadam”   adalah salah satu
           anggota  badan,  yaitu  “kaki”.  Lihat,  ketika  Nabi  Isa  disebut  sebagai
           “Ruh  Allah”;  orang-orang  Nasrani  --laknat  Allah  atas  mereka--
           meyakininya dalam makna zahir bahwa Allah adalah ruh yang telah
           menyatu dengan Maryam. [Seperti itukah cara berkeyakinan kalian?].
           Lalu ada lagi sebagian dari kalian yang berkata: “ؽض٣تهإا هجاظب يىخؾا”
           “Istawâ Bi Dzâtih al-Muqaddas”; padahal jelas tambahan kata “هجاظب”
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42