Page 38 - Islamic-theology-Ibnul-Jawzi-membongkar-kesesatan-akidah-Tasybih-meluruskan-penyimpangan-dalam-memahami-sifat-sifat-Allah-Nurul-Hikmah-Press-173-Hal
P. 38

30 | Islamic Theology

           seperti  ini  sama  dengan  memahami  teks  tersebut  secara  indrawi
           [artinya;  itu  adalah  sesat.  Dan  lebih  sesat  lagi  yang  mengartikan
                  dengan istaqarra
           Istawâ                ; bersemayam atau bertempat].
                  Sesungguhnya  dalam  menyikapi  teks-teks  mutasyâbihât

           semacam  ini  kita  tidak  boleh  menyampingkan  potensi  akal  sehat
           yang  merupakan  landasan  utama  dalam  memahami  setiap  teks.
           Dengan jalan akal inilah kita mengenal Allah [artinya dengan jalan

           memahami  dalil-dalil aqliyyah dan naqliyyah Lalu  akal  kita  telah
                                                      ].
           menetapkan bahwa Allah maha Qadîm, artinya tidak bermula [dan
           segala  sesuatu  selain-Nya  memiliki  permulaan  karena  semuanya
           adalah ciptaan-Nya; maka bagaimana mungkin Dia bertempat pada
           ciptaan-Nya?].  Seandainya  kalian  berkata:  “Kita  membaca  hadits-
           hadits  tersebut,  dan  kita  berdiam  diri  dari  mengungkit  makna-
           maknanya”,  maka  tentu  kalian  tidak  akan  diserang  oleh  siapapun.
           Sesungguhnya  yang  buruk  dari  kalian  itu  ialah  bahwa  kalian
           mengatakan:  “Teks-teks  itu  semua  harus  dipahami  dalam  makna-
           makna zahirnya”.

                  Janganlah  kalian  memasukan  ajaran-ajaran  aneh  ke  dalam
           madzhab orang salaf yang saleh ini (Ahmad bin Hanbal); yang nyata-
           nyata  itu  semua  bukan  dari  ajarannya.  Kalian  telah  merusak
           madzhab  ini  dengan  “bungkus”  yang  buruk,  hingga  tidak  disebut
           siapapun seorang yang bermadzhab Hanbali kecuali ia dicap sebagai
                     (seorang berkeyakinan sesat bahwa Allah sebagai benda).
           Mujassim
                  Selain  itu  kalian  juga  telah  merusak  madzhab  ini  dengan
           sikap fanatik terhadap Yazid bin Mu„awiyah. Padahal kalian sendiri
           tahu  bahwa  al-Imâm Ahmad  bin  Hanbal,  perintis  madzhab  ini,

           membolehkan melaknat Yazid. Bahkan Syekh Abu Muhammad at-
           Tamimi  sampai  berkata  tentang  salah  seorang  Imam  kalian  (yaitu
           Abu Ya„la al-Mujassim): “Dia (Abu Ya„la) telah menodai madzhab ini
           dengan noda yang sangat buruk, yang noda tersebut tidak akan bisa
           dibersihkan hingga hari kiamat”.
   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43