Page 21 - Sosiologi SMA Kelas XI Rev
P. 21
B. Teori-Teori tentang Pembentukan Kelompok Sosial
Pembentukan kelompok sosial dapat dikaji secara teoretis. Dasar pemben
tukan kelompok sosial terbagi atas dua hal berikut.
1. Alasan Individu Menjadi Anggota Kelompok
Pada kelompok sosial, tentu terdapat proses yang menyertai pembentukannya.
Secara umum, mengutip pendapat Vaughan dan Hogg (dalam Sarwono,
2017) terdapat alasan individu menjadi anggota suatu kelompok yang
diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Proksimitas
Individu cenderung bergabung dengan individu lain karena adanya
kedekatan. Kedekatan dapat berarti kedekatan fisik (tempat tinggal
yang ber dekatan, bersekolah atau bekerja di tempat yang sama) maupun
kedekatan emosional (pertalian emosi karena kekerabatan atau persa
habatan). Apapun bentuknya, kedekatan meningkatkan peluang interaksi
dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya
kelompok sosial. Misalnya, pelajarpelajar yang bertempat tinggal di
sebuah perumahan sangat mungkin akan berkelompok saat berangkat
sekolah atau pulang ke rumah.
b. Kesamaan
Tidak dapat dipungkiri bahwa orang lebih suka berhubungan dengan
orang lain yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya. Kesamaan
dimaksud mencakup kesamaan minat, sikap, keyakinan, nilai, usia, tingkat
kecerdasan, atau karakterkarakter personal lain. Semakin banyak kesamaan
yang dimiliki seseorang dengan orangorang lain maka semakin besar
pula kemungkinan mereka akan membentuk kelompok sosial. Misalnya,
sejumlah pelajar pencinta alam membentuk kelompok karena adanya
kesamaan minat bertualang agar lebih dekat dengan alam bebas.
c. Kesalingtergantungan untuk Mencapai Tujuan Tertentu
Adanya tujuan bersama yang hendak dicapai menyebabkan sejumlah
individu bergabung dalam suatu kelompok. Misalnya, para anggota OSIS
yang ingin mengusulkan pelaksanaan suatu kegiatan akan bergabung dalam
rapat demi memastikan usulannya diterima.
d. Dukungan Timbal Balik Bersifat Positif (Mutual Positive
Support)
Individu bergabung dalam kelompok demi memperoleh dukungan positif
yang membuatnya merasa memiliki afiliasi atau ikatan. Hal ini dapat
menghindarkan individu dari kesendirian. Misalnya, seorang pelajar yang
tidak hadir di sekolah karena sakit selama beberapa hari akan memperoleh
informasi tentang tugastugas sekolah dari teman sekelompoknya.
Bab I Kelompok Sosial 9