Page 26 - Sejarah Kebudayaan Islam MA Kelas XII
P. 26

Teori kedatangan Islam yang berasal dari Anak Benua India ini, ternyata banyak me ng-
                   ambil perhatian peneliti lain, di antaranya peneliti bernama Jean Pierre Moquette yang juga
                   mengungkapkan hal senada.
                       Pendapatnya didasarkan pada pengamatannya terhadap sebuah batu nisan di daerah
                   Pasai dengan angka tahun 17 Zulhijah 831  H/27 September  1428 M. Ada  juga bentuk
                   batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik dengan tahun 1419 M. Batu nisan di
                   kedua tempat tersebut, menurutnya memiliki bentuk yang sama dengan batu nisan yang
                   ada di Cambay, Gujarat. Sehingga ia berkesimpulan adanya persamaan batu nisan ini tidak
                   hanya berhubungan dengan ekspor dan impor barang dagangan, tapi juga memungkinkan
                   terjadinya proses pengambilan (belajar) Islam dari Gujarat.

                       Kesimpulan  Moquette  tersebut  dibantah  oleh  S.Q.  Fatimi  yang  juga  mengikuti
                   “teori  batu  nisan”.  Menurut  Fatimi,  batu  nisan  Malik  al-Saleh  di  Pasai  berbeda  jauh
                   dengan batu nisan yang terdapat di Gujarat dan batu-batu nisan lainnya di Nusantara. Ia
                   mengungkapkan bahwa bentuk dan gaya batu nisan itu justru mirip dengan batu nisan
                   yang terdapat di Bengal (kini Bangladesh). Hal Ini diperkuat oleh adanya batu nisan yang
                   terdapat  di  makam  Siti  Fatimah  binti  Maimun  (berangka  tahun  475  H/1082  M)  yang
                   ditemukan di Leran, Jawa Timur.
                       Oleh karena itu, Fatimi menyimpulkan bahwa semua batu nisan itu pasti diimpor dari
                   Bengal. Inilah yang menjadi alasan Fatimi bahwa asal-usul Islam di Kepulauan Melayu-
                   Indonesia  berasal  dari  Bengal.  Akan  tetapi,  justru  pendapat  dari  Moquette-lah  yang
                   mendapat dukungan dari sarjana lainnya. Di antaranya adalah Winstedt, Gonda, Bousquet,
                   Kern, Vlekke, dan Schrieke.


                   2.  Teori Arab (Mekah)
                   Teori ini pada awalnya dikemukakan oleh Crawfurd, Keyzer, Niemann, De Hollander, dan
                   Veth. Crawfurd menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab, tetapi ia juga menyebut
                   adanya hubungan dengan orang India Timur. Keyzer berpendapat bahwa Islam dari Mesir,
                   hal ini didasarkan adanya kesamaan mazhab yang dianut antara Mesir dan Indonesia
                   pada umumnya, yaitu mazhab Syafii. Teori Keyzer juga didukung oleh Niemann dan De
                   Hollander tentang kesamaan mazhab, tetapi dengan menyebut asalnya Hadramaut, bukan
                   Mesir. Sementara itu Veth mengemukakan menyebarnya Islam di Indonesia disebabkan
                   perkawinan orang Arab dengan pribumi, tetapi tidak menyebutkan asal tepatnya.
                       Thomas  W.  Arnold,  seorang  orientalis  Inggris  yang  merupakan  seorang  ahli  dalam
                   sejarah Islam dan sudah banyak menulis buku dan artikel tentang Islamisasi di Nusantara
                   mengungkapkan fakta bahwa Coromandel dan Malabar bukanlah satu-satunya tempat asal
                   Islam di Nusantara karena Islam di Nusantara juga dibawa oleh para pedagang dari Arab.
                   Para pedagang Arab ini mulai terlibat aktif dalam penyebaran Islam ketika mereka dominan
                   dalam proses perdagangan Barat-Timur yang terjadi sejak awal abad ke-7 dan ke-8 Masehi.
                   Asumsi ini didasarkan pada beberapa sumber dari Cina yang menyebutkan bahwa menjelang
                   akhir abad ke-7 M, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman Arab Muslim di





                      6    Sejarah Kebudayaan Islam MA Kelas XII
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31