Page 220 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 220

BAB I
                                                      PENDAHULUAN


                        1.1 Latar Belakang
                             Chatbot     pembelajaran      memiliki   kemampuan        untuk    meniru
                        komunikasi manusia, menjawab pertanyaan siswa, memberikan umpan
                        balik secara instan, serta memandu mereka melalui proses pembelajaran
                        yang bersifat interaktif. Sebagai asisten virtual, chatbot dapat berfungsi
                        untuk membantu siswa memahami materi, memberikan contoh penerapan
                        konsep, serta menstimulasi kemampuan berpikir kritis melalui dialog dan
                        pertanyaan pemicu. Dengan karakteristik tersebut, chatbot berpotensi
                        besar untuk mendukung prinsip pembelajaran mandiri (self-directed
                        learning) yang menempatkan siswa sebagai pusat dari proses belajar.
                             Dalam konteks pembelajaran sains, peran chatbot menjadi semakin
                        relevan karena sains tidak hanya menuntut hafalan konsep, tetapi juga
                        pemahaman yang mendalam tentang proses berpikir ilmiah—mulai dari
                        mengamati, menanya, menganalisis, hingga menyimpulkan. Kemampuan
                        ini terangkum dalam istilah literasi sains, yaitu kemampuan untuk
                        memahami konsep ilmiah, berpikir logis, serta menggunakan pengetahuan
                        ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Literasi sains penting untuk
                        membentuk individu yang mampu mengambil keputusan berbasis bukti
                        (evidence-based decision making) dan berpikir kritis terhadap isu-isu
                        ilmiah yang berkembang di masyarakat modern.
                             Namun, kenyataannya tingkat literasi sains siswa di Indonesia masih
                        tergolong rendah. Berdasarkan hasil Programme for International Student
                        Assessment (PISA) tahun 2022, Indonesia masih berada di bawah rata-
                        rata negara OECD dalam kemampuan literasi sains. Rendahnya capaian
                        ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan kurikulum sains dan
                        praktik pembelajaran di lapangan. Beberapa faktor yang memengaruhi
                        kondisi tersebut antara lain:
                        1. Pendekatan pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan dan
                            belum sepenuhnya mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi
                            (HOTS).
                        2. Keterbatasan waktu dan sumber daya guru, sehingga interaksi
                            personal antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran masih
                            minim.
                        3. Kurangnya       media      pembelajaran      interaktif,   yang     mampu
                            menumbuhkan rasa ingin tahu, eksplorasi, serta keterlibatan aktif
                            siswa dalam proses belajar.
                              Sejumlah penelitian terdahulu telah mencoba menghadirkan solusi
                        inovatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Misalnya, penelitian oleh
                        Lestari (2022) menunjukkan bahwa penggunaan chatbot edukatif mampu
                        meningkatkan hasil belajar sains sebesar 15% dibanding metode
                        konvensional. Junaidi (2023) meneliti implementasi chatbot berbasis AI
                        dalam pembelajaran biologi dan menemukan peningkatan motivasi serta


                                                               1
   215   216   217   218   219   220   221   222   223   224   225