Page 225 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 225
Menurut Fryer et al. (2020), chatbot pembelajaran memiliki beberapa
karakteristik utama yang membedakannya dari media pembelajaran
konvensional, yaitu:
1. Interaktif, karena memungkinkan siswa berkomunikasi dua arah
melalui percakapan digital secara real-time. Chatbot merespons setiap
masukan pengguna dengan jawaban yang relevan, sehingga
menciptakan pengalaman belajar yang aktif dan komunikatif.
2. Adaptif, yakni kemampuan chatbot untuk menyesuaikan respons
berdasarkan tingkat pemahaman, gaya belajar, dan kesalahan
pengguna. Misalnya, ketika siswa memberikan jawaban yang kurang
tepat, chatbot dapat memberikan petunjuk tambahan atau penjelasan
lanjutan sesuai kebutuhan belajar.
3. Personalisatif, yaitu kemampuan untuk menyesuaikan pengalaman
belajar dengan karakteristik individu siswa. Chatbot dapat menyimpan
riwayat percakapan dan menyesuaikan materi sesuai dengan
kecepatan, minat, serta tingkat penguasaan konsep tiap siswa.
4. Konsisten, karena chatbot memberikan umpan balik yang stabil,
objektif, dan bebas dari faktor emosional atau subjektivitas manusia.
Konsistensi ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang adil
dan terukur.
5. Fleksibel, yakni dapat diakses kapan saja dan di mana saja melalui
berbagai perangkat digital seperti ponsel, tablet, atau komputer.
Fleksibilitas ini mendukung prinsip lifelong learning dan mobile
learning yang menjadi ciri pembelajaran modern.
Karakteristik-karakteristik tersebut menjadikan chatbot pembelajaran
sebagai inovasi strategis dalam pendidikan abad ke-21, yang
menekankan pada kemandirian belajar (self-directed learning), kolaborasi
digital, dan pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran adaptif. Selain itu,
chatbot juga berpotensi mengatasi keterbatasan sumber daya guru,
memperluas akses terhadap pembelajaran berkualitas, dan meningkatkan
keterlibatan siswa dalam proses belajar sains secara interaktif dan
menyenangkan.
2.1.3 Peran Chatbot dalam Meningkatkan Literasi Sains
Literasi sains merupakan kemampuan individu untuk memahami
konsep ilmiah, berpikir secara logis dan kritis, serta menerapkan prinsip-
prinsip ilmiah dalam kehidupan sehari-hari (OECD, 2019). Literasi sains
tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan faktual, tetapi juga
mencakup keterampilan untuk mengidentifikasi masalah ilmiah,
menafsirkan data, dan membuat keputusan berbasis bukti (evidence-
based decision making).
Namun, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi
sains siswa di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan laporan
Programme for International Student Assessment (PISA, 2022), Indonesia
menempati peringkat bawah dalam kemampuan sains di antara negara
peserta. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan konsep, bukan
pemahaman.
6

