Page 224 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 224
ilmiah yang merangsang proses berpikir reflektif dan eksplorasi
pengetahuan baru.
Dengan ketiga fungsi tersebut, penerapan AI di bidang pendidikan
memberikan peluang untuk menciptakan lingkungan belajar yang personal,
fleksibel, dan interaktif, sesuai dengan prinsip adaptive learning. Sistem AI
dapat menyesuaikan konten, kecepatan, dan tingkat kesulitan materi
berdasarkan profil belajar siswa.
Dalam konteks penelitian ini, penerapan AI diwujudkan melalui
pengembangan chatbot pembelajaran “CEMARA” (Chatbot Edukasi untuk
Meningkatkan Literasi Sains). Chatbot ini dirancang sebagai asisten
pembelajaran berbasis teks yang berfungsi untuk:
1. memberikan penjelasan materi sains secara interaktif,
2. menstimulus pertanyaan dan rasa ingin tahu siswa,
3. menyajikan kuis berbasis konsep ilmiah, dan
4. memberikan umpan balik otomatis terhadap jawaban siswa.
Dengan demikian, chatbot pembelajaran merupakan salah satu
bentuk implementasi konkret AIED, yang memadukan kecerdasan buatan
dengan strategi pembelajaran konstruktivistik. CEMARA diharapkan
mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menarik dan
menumbuhkan literasi sains siswa melalui interaksi berbasis percakapan
yang alami dan bermakna.
2.1.2 Konsep dan Karakteristik Chatbot Pembelajaran
Chatbot pembelajaran merupakan sistem berbasis kecerdasan
buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk membantu proses
belajar-mengajar melalui percakapan interaktif antara komputer dan
peserta didik. Secara konseptual, chatbot pembelajaran bekerja dengan
prinsip Natural Language Processing (NLP), yaitu kemampuan sistem
komputer untuk memahami, menginterpretasi, dan merespons bahasa
manusia secara alami.
Melalui NLP, chatbot dapat menganalisis masukan (input) berupa
teks dari siswa, kemudian mengidentifikasi maksud pertanyaan (intent
recognition), mencari informasi yang relevan dalam basis data, dan
memberikan jawaban (output) yang sesuai secara linguistik dan konteks
(Jurafsky dan Martin, 2023). Dengan demikian, chatbot tidak hanya
bertindak sebagai alat tanya jawab otomatis, tetapi juga sebagai agen
pembelajaran cerdas (intelligent learning agent) yang mampu
menstimulasi komunikasi edukatif dan refleksi berpikir.
Dalam konteks pembelajaran sains, kemampuan chatbot untuk
memahami konteks dan menyesuaikan jawaban berdasarkan tingkat
kesulitan konsep menjadi sangat penting. Misalnya, ketika siswa
menanyakan “mengapa air bisa menguap,” chatbot dapat memberikan
penjelasan sederhana berdasarkan konsep perubahan wujud zat dan
energi panas, sambil mengaitkannya dengan contoh kehidupan sehari-
hari. Hal ini menjadikan chatbot berperan sebagai tutor virtual yang
membantu siswa membangun pemahaman konseptual, bukan sekadar
menghafal fakta ilmiah.
5

