Page 267 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 267
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah
mengubah lanskap sistem transportasi secara global. Munculnya platform
transportasi daring (ride-hailing) seperti Gojek, Grab, dan Maxim
merupakan wujud konkret dari transformasi digital di sektor mobilitas.
Konsep ini menawarkan efisiensi waktu, kemudahan akses, dan
konektivitas tinggi antarpengguna, sehingga menjadikannya bagian
integral dari kehidupan masyarakat perkotaan di Indonesia. Berdasarkan
laporan Google Temasek e-Economy SEA (2023), Indonesia menjadi
pasar transportasi online terbesar di Asia Tenggara dengan nilai transaksi
mencapai lebih dari US$5,5 miliar per tahun.
Namun, kemajuan ini tidak lepas dari konsekuensi lingkungan yang
signifikan. Menurut teori Sistem Transportasi Berkelanjutan (Banister,
2008), idealnya, peningkatan efisiensi mobilitas masyarakat harus sejalan
dengan penurunan dampak lingkungan, termasuk pengurangan emisi
karbon dioksida (CO₂) yang dihasilkan dari aktivitas kendaraan bermotor.
Dalam praktiknya, justru terjadi paradoks: semakin banyak kendaraan
transportasi online yang beroperasi, semakin tinggi pula potensi
peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK), terutama di kawasan padat
aktivitas urban.
Fenomena ini semakin kompleks dengan laju urbanisasi cepat dan
kemacetan kronis di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung,
dan Medan. Peningkatan jumlah kendaraan, baik pribadi maupun
transportasi daring, menyebabkan lonjakan konsumsi bahan bakar fosil.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK,
2023), sektor transportasi menyumbang sekitar 23% dari total emisi
karbon nasional, dan angka ini diproyeksikan terus meningkat seiring
dengan pertumbuhan jumlah kendaraan roda dua dan roda empat.
Aktivitas transportasi online, meskipun efisien dalam hal aksesibilitas dan
pelayanan publik, turut menjadi bagian dari kontribusi terhadap
peningkatan emisi karbon tersebut.
Dalam kerangka teori Environmental Kuznets Curve (EKC),
dijelaskan bahwa pada fase awal pertumbuhan ekonomi, aktivitas industri
dan transportasi meningkat pesat sehingga menyebabkan kenaikan emisi
karbon. Namun, pada tahap selanjutnya, ketika kesadaran lingkungan dan
kemampuan teknologi meningkat, terjadi penurunan emisi karena
masyarakat mulai menerapkan teknologi bersih dan kebijakan ramah
lingkungan. Dalam konteks Indonesia, posisi saat ini masih berada pada
tahap peningkatan emisi, karena penetrasi teknologi ramah lingkungan,
seperti kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) dan energi terbarukan,
masih dalam tahap adopsi awal dan menghadapi tantangan infrastruktur,
biaya investasi, serta kesiapan regulasi.
Penelitian terdahulu oleh Rahardjo (2021) menunjukkan bahwa
sepeda motor berbasis aplikasi online menghasilkan emisi CO₂ sebesar
108 gram per kilometer (g/km) jauh di atas ambang batas ideal
transportasi ramah lingkungan menurut standar European Environment
1

