Page 391 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 391

BAB I
                                                        PENDAHULUAN


                        1.1 Latar Belakang
                            Aktivitas fisik yang terukur dan aman memiliki peran penting bagi ibu hamil
                        dalam  menjaga  kebugaran  tubuh,  kestabilan  denyut  jantung,  serta
                        keseimbangan  sistem  peredaran  darah  dan  respirasi.  Selama  masa
                        kehamilan,  tubuh  wanita  mengalami  berbagai  perubahan  fisiologis,  seperti
                        peningkatan  volume  darah,  perubahan  tekanan  arteri,  serta  peningkatan
                        kebutuhan oksigen untuk mendukung pertumbuhan janin. Oleh karena itu, ibu
                        hamil  memerlukan  bentuk  aktivitas  yang  ringan  namun  tetap  mampu
                        mempertahankan  kebugaran  kardiovaskular  tanpa  menimbulkan  kelelahan
                        berlebih.
                            Salah  satu  bentuk  aktivitas  fisik  ringan  yang  dapat  dilakukan  oleh
                        muslimah  adalah  salat,  yaitu  ibadah  wajib  lima  waktu  yang  mencakup
                        rangkaian gerakan teratur seperti berdiri (qiyam), rukuk, sujud, dan duduk di
                        antara dua sujud. Setiap gerakan memiliki ritme, posisi, dan pola pernapasan
                        tertentu  yang  dapat  memengaruhi  sistem  fisiologis  tubuh,  termasuk  aliran
                        darah, kerja otot, serta pernapasan. Dalam konteks kehamilan, gerakan rukuk
                        dan sujud dapat berfungsi sebagai latihan peregangan alami (mild stretching
                        exercise)  yang  membantu  menjaga  elastisitas  otot  punggung  dan  panggul,
                        memperlancar aliran darah ke jantung, serta meningkatkan relaksasi mental.
                            Beberapa penelitian terdahulu menyebutkan bahwa gerakan salat memiliki
                        efek  positif  terhadap  keseimbangan  sistem  saraf  dan  peredaran  darah.
                        Misalnya,  Nasrullah  (2021)  menemukan  bahwa  posisi  sujud  dapat
                        meningkatkan  perfusi  darah  ke  otak  hingga  10–15%,  sedangkan  Sari  dan
                        Rahma  (2022)  menunjukkan  bahwa  pelaksanaan  salat  rutin  selama  dua
                        minggu  mampu  menstabilkan  tekanan  darah  ibu  hamil.  Namun,  sebagian
                        besar penelitian tersebut masih menggunakan metode observasi konvensional
                        tanpa  dukungan  alat  pengukuran  fisiologis  berbasis  teknologi  digital  yang
                        mampu merekam data secara real time.
                            Perkembangan teknologi modern, khususnya perangkat wearable seperti
                        smartwatch, telah membuka peluang baru dalam dunia kesehatan maternal.
                        Smartwatch  generasi  terbaru  dilengkapi  dengan  berbagai  sensor  biologis,
                        seperti  photoplethysmography  (PPG)  untuk  mengukur  detak  jantung  (heart
                        rate),  pulse  oximeter  untuk  memantau  kadar  oksigen  darah  (SpO₂),  dan
                        accelerometer  untuk  mendeteksi  tingkat  aktivitas  fisik.  Teknologi  ini
                        memungkinkan proses pemantauan kesehatan dilakukan secara non-invasif,
                        cepat, dan berkelanjutan.
                            Dalam  konteks  penelitian  ini,  smartwatch  berfungsi  sebagai  instrumen
                        utama untuk mendeteksi dan merekam perubahan fisiologis ibu hamil selama
                        pelaksanaan  gerakan  salat.  Data  yang  dikumpulkan  meliputi  variasi  denyut
                        jantung,  kadar  oksigen  darah,  dan  tingkat  aktivitas  otot,  yang  kemudian



                                                                6
   386   387   388   389   390   391   392   393   394   395   396