Page 24 - FIKIH_MA_KELAS X_KSKK_2020
P. 24

untuk  kemudian  dilaksanakan  secara  praktis  sesuai  dengan  kehendak  Allah.  Oleh

                       karena  itu  Rasulullah  Saw.  memberikan  penjelasan  mengenai  maksud  setiap  ayat
                       hukum  itu  kepada  umatnya,  sehingga  ayat-ayat  yang  tadinya  belum  dalam  bentuk

                       petunjuk  praktis,  menjadi  jelas  dan  dapat  dilaksanakan  secara  praktis.  Nabi
                       memberikan penjelasan dengan ucapan, perbuatan, dan pengakuannya yang kemudian

                       disebut sunnah Nabi. Apakah hukum-hukum yang bersifat amaaliah yang dihasilkan
                       oleh Nabi yang bersumber kepada al-quran itu dapat disebut fiqih.


                   2.  Periode Sahabat

                              Periode kedua ini berkembang pada masa wafatya Nabi Muhammad Saw. dan
                       berakhir sejak Muawiyah bin Abi Sufyan menjabat sebagai khalifah pada tahun 41 H.

                       Pada periode ini hiduplah sahabat-sahabat Nabi terkemuka yang mengibarkan bendera
                       dakwah  Islam.  Pada  periode  ini  juga  wilayah  islam  sudah  semakin  meluas,  yang

                       mengakibatkan adanya masalah-masalah baru yang timbul. Oleh karena itu, tidaklah

                       mengherankan apabila pada periode sahabat ini pada bidang hukum ditandai dengan
                       penafsiran  para  sahabat  dan  ijtihadnya  dalam  kasus-kasus  yang  tidak  ada  nashnya,

                       disamping  itu  juga  terjadi  hal-hal  yng  tidak  menguntungkan  yaitu  perpecahan
                       masyarakat islam yang bertentangan sacara tajam.


                              Di periode sahabat ini, kaum muslimin telah memiliki rujukan hukum syari’at

                       yang sempurna berupa Al-Qur’an, Hadis, ijma’ dan qiyas. Adat istiadat dan peraturan
                       peraturan  berbagai  daerah  yang  bernaungan  di  bawah  Islam  tak  luput  ikut

                       memperkaya  aturan-aturan  yang  berlaku.  Dapat  ditegaskan  bahwa  zaman
                       khulafaurrasyidin  lengkaplah  dalil-dalil  tasyri’  Islam.  Sahabat-sahabat  besar  dalam

                       periode  ini  menafsirkan  nash-nash  hukum  dari  al-Qur’am  maupun  hadis,  yang
                       kemudian menjadi pegangan untuk menafsirkan dan menjelaskan nash-nash.


                              Selain  itu,  para  sahabat  memberi  fatwa-fatwa  dalam  berbagai  masalah

                       terhadap  kejadian-kejadian  yang  tidak  ada  nash  yang  jelas  mengenai  masalah  itu,
                       yang  kemudian  menjadi  dasar  ijtihad.  Dalam  Hal  ini,  tidaklah  menyalahi  jika  apa

                       yang dilakukan oleh para sahabat juga bisa dijadikan pegangan oleh para tabi'in. hal
                       ini selaras dengan Sabda Nabi yang berbunyi:

                                                                       ْ ْ َ َ ْ ُ ْ َ َ ْ  ُ ِّ  َ  ْ ُ ُّ َ  ْ َ ْ  َ
                                                                         ُ
                                                                                ُ
                                                                         َ متيدتهاَمتيدتقاَمهيأبَموجنلاكَيباحصأ
                                                                                        ِ ِ ِ ِ
                                                                                                    ِ




               12   BUKU FIKIH X MA
   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29