Page 139 - EBOOK_Dasar - Dasar Pakan Ternak 2
P. 139
Setelah oksigen habis, maka proses fermentasi dimulai. Proses
fermentasi menyebabkan penurunan kadar pH sampai dengan pH
tertentu sehingga tidak ada lagi organisme yang dapat hidup dalam silo,
artinya silase dapat menekan proses aktivitas bakteri pembusuk yang
akan menurunkan mutu hijauan sehingga dapat disimpan dalam waktu
yang lama sampai tiba waktunya diberikan kepada ternak. Fermentasi
juga dapat meningkatkan nilai gizi bahan pakan itu sendiri.
Pembuatan silase dibantu oleh mikroorganisme anaerob/hampa udara
(air tight) yang mengubah karbohidrat atau gula tanaman (plant sugars)
menjadi asam laktat. Mikroorganisme / bakteri tersebut dinamakan
bakteri asam laktat (BAL). Bakteri asam laktat tersebut diantaranya
adalah Lactobacillus plantarum, Streptococcus lactis dan jenis fungi
seperti Aspergilus niger, Aspergilus oryzue. Manfaat probiotik sebagai
bahan aditif ditunjukkan dengan meningkatnya ketersediaan lemak dan
protein bagi ternak, selain itu probiotik juga meningkatkan kandungan
vitamin B kompleks melalui fermentasi makanan.
Pada dasarnya proses fermentasi dapat berjalan secara alami, namun
hasilnya tidak optimal, karena tercemar bakteri pembusuk. Oleh
karena itu perlu ditanam bakteri fermentasi yang berasal dari biakan
murni, agar lebih mampu bersaing dengan bakteri pembusuk dan silase
yang dihasilkan lebih sempurna. Proses fermentasi juga memerlukan
starter untuk merangsang perkembangan bakteri asam laktat. Starter
bisa berupa tetes tebu (molasses) atau gula pasir, atau bahan lain
sebagai sumber karbohidrat yang mudah dicerna.
4) Tahapan – Tahapan yang Terjadi dalam Pembuatan Silase
Proses fermentasi pada bahan organik disebut ensiling atau ensilase.
Ensiling merupakan metode pengawetan pakan ternak secara langsung
melalui proses fermentasi asam laktat secara anaerob. Fermentasi asam
laktat akan mengoksidasi WSC (karbohidrat mudah larut) menghasilkan
127

