Page 318 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 318
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
Response to Cholesky One S.D. Innovations ± 2 S.E.
Response of KONSUMEN to KONSUMEN Response of KONSUMEN to PRODUSEN
4,000 4,000
3,000 3,000
2,000 2,000
1,000 1,000
0 0
-1,000 -1,000
-2,000 -2,000
-3,000 -3,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Response of PRODUSEN to KONSUMEN Response of PRODUSEN to PRODUSEN
3,000 3,000
2,000 2,000
1,000 1,000
0 0
-1,000 -1,000
-2,000 -2,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Gambar 1. Impulse Response Function Harga Bawang Merah di Tingkat Produsen dan
Konsumen di Jawa Timur
Berdasarkan gambar IRF pada gambar 1 tersebut diketahui bahwa pada kuadran 1
menunjukkan perubahan harga konsumen dalam merespon adanya shock variabel harga
produsen. Respon harga konsumen terhadap shock harga produsen cenderung menurun. Harga
konsumen merespon harga produsen sangat kecil tepat nol pada periode pertama. Sementara,
pada periode selanjutnya respon menurun hingga dibawah nol atau negatif. Hal ini
menunjukkan respon harga konsumen terhadap shock harga produsen cenderung direspon
negatif. Pada kuadran 3 menunjukkan respon perubahan variabel harga produsen terhadap
shock harga konsumen. Pada gambar kuadran 3 tersebut diketahui bahwa shock pada harga
konsumen direspon positif oleh harga produsen pada periode awal hingga akhir walaupun
mengalami penurunan pada periode ketujuh dan kedelapan. Hal ini menunjukkan bahwa
harga konsumen ditransmisikan pada harga di tingkat produsen. Sedangkan pada kuadran 2
dan 4 tidak perlu diinterpretasi. Hal ini disebabkan karena kuadran 2 menunjukkan respon
variabel harga konsumen terhadap harga konsumen itu sendiri. Sementara, pada kuadran 4
menunjukkan respon variabel harga produsen terhadap harga produsen itu sendiri sehingga
juga tidak perlu diinterpretasikan.
Berdasarkan hasil IRF (Impulse Response Function) tersebut dapat diketahui bahwa
shock pada harga konsumen lebih direspon positif oleh harga produsen. Hal ini menunjukkan
bahwa transmisi harga lebih cenderung terjadi dari harga di tingkat konsumen ke produsen
daripada harga di tingkat produsen ke konsumen. Transmisi harga terjadi dari harga di tingkat
konsumen ke produsen disebabkan oleh adanya kekuatan pasar yang lebih mendominasi yaitu
pedagang sebagai price makers dan petani atau produsen hanya sebagai penerima harga (price
takers).
Sementara itu, Variance Decomposition (VD) juga menunjukkan proporsi varians
forecast suatu variabel yang disebabkan oleh variabel itu sendiri maupun variabel lain dan
untuk melihat kekuatan dan kelemahan masing-masing variabel dalam mempengaruhi
variabel lainnya dalam kurun waktu yang panjang. Berdasarkan hasil variance decomposition
yang pertama menunjukkan tentang variance decomposition dari variabel harga konsumen
terhadap harga produsen dan seberapa besar variabel tersebut mempengaruhi harga
konsumen. Variabel harga konsumen dipengaruhi oleh variabel itu sendiri sebesar 100% pada
periode pertama. Pada periode kedua perubahan harga bawang merah di tingkat konsumen
dijelaskan oleh perubahan harga di tingkat konsumen sendiri sebesar 98,83701% dan sisanya
dijelaskan oleh perubahan harga di tingkat produsen sebesar 1,162986% dan begitu juga
untuk periode selanjutnya.
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 307

