Page 352 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 352
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
dapat dilihat dari aspek kelayakan teknis serta jaminan kehalalan dan keamanan pangan
berdasarkan standar atau sistem tertentu.
Identifikasi kelayakan teknis di peternakan dapat mengacu pada Peraturan Menteri
Pertanian (Permentan) Nomor 31/Permentan/OT.140/2/2014 tentang pedoman budi daya
ayam pedaging yang baik. Identifikasi kelayakan teknis dan keamanan pangan di RPA dapat
mengacu pada SNI RPU (01-6160-1999) dan Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Identifikasi
kehalalan pangan dari aspek operasional berdasarkan 4 persyaratan halal yaitu hewan yang
disembelih, teknik penyembelihan, penyembelih dan alat menyembelih. Identifikasi jaminan
halal berdasar SJH (Sistem Jaminan Halal). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi
kelayakan teknis serta penerapan aspek kehalalan dan keamanan pangan pada rantai pasok
daging ayam di Malang, yaitu di peternakan dan tempat pemotongan ayam.
2. Tinjauan Pustaka
Pangan halal adalah makanan atau minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi atau
tidak terikat dengan ketentuan yang melarangnya dalam syariat Islam. Kehalalan daging ayam
terkait erat dengan proses pengolahan di rantai pasoknya, diantaranya peternakan ayam dan
pemotong ayam (Prastowo, 2014). Sebagai salah satu unit usaha produk pangan asal hewan,
setiap usaha peternakan unggas harus memenuhi ketentuan masyarakat veteriner yang
ditetapkan pada peraturan perundangan dan dinas terkait. Salah satunya pada Peraturan
Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 31/Permentan/OT.140/2/2014 tentang Pedoman Budi
Daya Ayam Pedaging dan Ayam Petelur yang Baik (Farida, 2012). Secara garis besar aturan
tersebut berisi panduan aspek penting dalam menjamin kesehatan veteriner diantaranya aspek
biosekuriti, sanitasi dan higiene serta manajemen yang diterapkan untuk mengatur
pelaksanaan keamanan pangan asal hewani (Rasyaf, 2002). Peternakan dibagi menjadi 2 yaitu
peternakan skala kecil dan skala besar berdasarkan populasi ternak. Peternakan skala kecil
berpopulasi 2.000-5.000 ekor. Peternakan skala besar berpopulasi lebih dari 10.000 ekor
(Imsin, 2011).
Menurut Prastowo (2014) pengolahan ayam di RPA merupakan tahap terpenting pada
mata rantai penyediaan daging yang ASUH. Pembangunan dan operasional RPA harus sesuai
standar yang tercantum dalam peraturan SNI (Standar Nasional Indonesia) RPU (01-6160-
1999) terkait RPA sebagai acuan bagi pelaku usaha untuk menghasilkan daging ayam yang
ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). RPA yang dibangun menurut aturan SNI, maka mutu
karkas hasil pemotongan akan memiliki kualitas yang baik karena diproses menganut kaidah
halal dan higienis.
SJH adalah sistem manajemen yang disusun, diterapkan dan dipelihara oleh
perusahaan pemegang sertifikat halal untuk menjaga kesinambungan proses produksi halal
sesuai dengan ketentuan LPPOM MUI. Tujuan penyusunan dan penerapan SJH di perusahaan
untuk menjaga kesinambungan proses produksi halal, sehingga produk yang dihasilkan dapat
selalu dijamin kehalalannya (Anonim, 2008).
3. Bahan dan Metode
Populasi penelitian adalah peternakan plasma X-PS dan tempat pemotongan ayam
mitra X-PS. Digunakan purposive sampling untuk penentuan sampel peternakan dan snowball
sampling untuk penentuan tempat pemotongan ayam. Penelitian dilakukan di 5 peternakan
inti plasma X-PS dan 3 tempat pemotongan ayam di Malang. Waktu penelitian di bulan
Januari hingga April 2016. Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif.
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 341

