Page 423 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 423
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Prayitno, dkk, 2014 yang menyatakan tedapat
hubungan yang cukup kuat antara tingkat sosial ekonomi atau dalam hal ini faktor internal
dengan persepsi. Dari hasil observasi dan wawancara lanjutan ditemukan terdapat faktor
eksternal berupa stimuli atau rangsangan yang diberikan seperti dengan pelaksanaan
penyuluhan yang sebelumnya direncanakan dengan baik dimana mampu meningkatkan
persepsi petani, selain itu, adanya program stimulan berupa bantuan sarana produksi pada
tahun 2015 dan 2016 melalui Program UPSUS Padi, Jagung dan Kedele yang merupakan
faktor situasional (Sobur, 2011) sehingga akan membentuk situasi yang mendukung masuk
dan berkembangnya suatu ide dan inovasi baru
Tabel. 4 Tingkat Pengetahuan Petani tentang Teknologi Produksi Benih Padi
No Interval Pengetahuan F % Tingkat Pengetahuan
1 0 – 6,666 0 0,00 Sekedar Tahu
2 > 6,666 – 13,333 0 0,00 Mengerti
3 > 13,333 – 19,999 2 6,67 Dpt Menggunakan Pengetahuan
4 > 19,999 – 26,666 15 50,00 Dapat Menganalisis
5 > 26,666 – 33,333 9 30,00 Dapat Mensintesis
6 > 33,333 – 40 4 13,33 Dapat Mengevaluasi
Total 30,00 100,00
Evaluasi Pengetahuan Petani Tentang Produksi Benih Padi
Pengukuran peningkatan pengetahuan petani sasaran dilaksanakan atas dasar hasil
wawancara dengan petani sebelum pelaksanaan penyuluhan. Menurut petani sasaran bahwa
mereka belum tahu tentang teknologi produksi benih padi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa
tingkat pengetahuan petani sasaran berada pada tingkat sekedar tahu. Selanjutnya dilakukan
tes akhir dengan menggunakan kuisioner setelah pelaksanaan penyuluhan. Hasil evaluasi
pengetahuan penyuluhan teknologi produksi benih padi di Desa Tanggulangin dapat
digambarkan pada Tabel 4.
Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan penyuluhan menunjukan terjadinya perubahan
pengetahuan akhir rata-rata petani responden tentang “Teknologi Produksi Benih Padi” yakni
berkisar antara tingkat pengetahuan dapat menggunakan pengetahuan (6,67%), dapat
menganalisis (50%), dapat mensintesis (30%) hingga dapat mengevaluasi (13,33%)
Berdasarkan kondisi tersebut maka tingkat pengetahuan petani sasaran setelah
pelaksanaan penyuluhan rata-rata sudah cukup baik. Hal ini berarti petani sasaran rata-rata
sudah dapat menguraikan masalah yang rumit menjadi lebih sederhana dan jelas artinya
petani sudah bisa membedakan dan memisahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan
usahataninya menjadi lebih sederhana dan jelas namun belum bisa mengambil tindakan yang
tepat dalam mengatasinya (Suwasono, 1992 dalam Karbeka, 2008). Hal ini disebabkan karena
kurangnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan dan penganekaragaman
pengetahuan. Semakin banyak kegiatan untuk meningkatkan dan menganekaragamkan
pengetahuan petani diharapkan petani dapat menggunakan berbagai pengetahuan tersebut
dalam rangka memecahkan permasalahan rumit dalam berusahatani
4. Kesimpulan
Karakteritik sosial ekonomi yang dalam kerangka teori persepsi merupakan faktor
internal petani berupa umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani dan luas
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 412

