Page 419 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 419
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
PERSEPSI PETANI TERHADAP MODEL DESA MANDIRI BENIH DI DESA
TANGGULANGIN KECAMATAN KEJAYAN KABUPATEN PASURUAN
PROVINSI JAWA TIMUR
1)
1)
1) Achmad Nizar, Umi Wahyuti, Latarus Famongohoi, Hendra
2)
2)
1) Dosen STPP Malang, Alumni STPP Malang
Korespondensi Penulis: Achmad Nizar, chmd_nizar@yahoo.com
Ringkasan
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui faktor internal petani terhadap pelaksanaan penyuluhan
“Pengenalan Model Desa Mandiri Benih”; (2) Mengetahui persepsi petani terhadap Model Desa
Mandiri Benih; (3) Mengetahui hubungan faktor internal petani dengan persepsi petani terhadap
Model Desa Mandiri Benih; dan (4). Mengetahui tingkat pengetahuan petani setelah pelaksanaan
penyuluhan “Teknologi Produksi Benih Padi” yang merupakan prasyarat utama pelaksanaan Model
Desa Mandiri Benih. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan teknik
wawancara dan observasi serta pencatatan atau kuisioner. Lokasi penelitian ditentukan secara
purposive, yaitu di Desa Tanggulangin Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Sampel petani 41
orang petani yang telah mengikuti kegiatan penyuluhan “Pengenalan Model Desa Mandiri Benih” dan
30 orang untuk sampel evaluasi pelaksanaan penyuluhan “Teknologi Produksi Benih Padi”. Hasil
penelitian di Desa Tanggulangin menunjukkan (60,98%) petani responden mempunyai persepsi yang
baik terhadap Model Desa Mandiri Benih dan Petani responden yang mempunyai persepsi yang sangat
baik sebesar (39,02%). Tidak ada korelasi yang nyata antara faktor internal petani dengan persepsi
petani terhadap Model Desa Mandiri Benih. Sedangkan tingkat pengetahuan petani responden
terhadap Teknologi Produksi Benih Padi menunjukan (6,67%) berada pada tingkat dapat
menggunakan pengetahuan, dapat menganalisis (50%), dapat mensintesis (30%) dan dapat
mengevaluasi (13,33)
Kata Kunci: Persepsi, Petani Padi, Model Desa Mandiri Benih
1. Pendahuluan
Kebutuhan pangan (beras) tidak pernah surut dari tahun ke tahun. Hal ini tidak
sebanding dengan ketersediaannya walaupun tiap tahun menunjukan adanya peningkatan
produksi Pangan (beras). Hal yang menjadi faktor penentu besarnya permintaan pangan
(beras) adalah pertambahan penduduk yang tidak terkendali. Disisi lain pertanian
tanaman pangan terutama tanaman padi merupakan komoditi ekonomi yang menjadi
sumber penghasilan utama petani di indonesia
Untuk memenuhi permintaan pangan (beras) yang begitu tinggi perlu diimbangi
dengan peningkatan produksinya. Diversifikasi, Ekstensifikasi dan Intensifikasi
merupakan program-program yang diluncurkan pemerintah dari dahulu hingga sekarang.
Salah satu program intensifikasi yang dianjurkan adalah penggunaan benih bermutu
varietas unggul baru.
Menurut Simamora, 2015 Jumlah kebutuhan benih padi nasional pada tahun 2014
sebesar 350.000 ton per musim tanam. PT. Sang Hyang Seri dan PT. Pertani hanya mampu
memproduksi benih sebesar 200.000 ton – 300.000 ton benih padi per tahun, sisanya
diproduksi oleh swasta yang masih relatif sedikit serta penggunaan benih bekas oleh petani.
Jawa Timur membutuhkan benih padi sebesar 7.304 per tahun (Simanjuntak, 2012). Desa
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 408

