Page 415 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 415
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
Masyarakat Wonokitri juga menekuni usaha ternak babi. Babi memiliki ciri khas lokal
dan menjadi komoditas ternak yang tidak bisa dilepaskan dari kelangsungan hidup
masyarakat Desa Wonokitri. Hal tersebut disebabkan adanya selain fungsi secara ekonomi
namun juga berfungsi secara sosial dan ritual. Ternak babi mereka gunakan untuk
menyumbang pada orang atau saudara yang ada hajatan. Sumber pasokan bibit babi 100%
berasal dari dalam desa, harga bibit ternak rata-rata Rp. 650.000. Hal tersebut menjadi
kelebihan dalam usaha ternak babi karena mereka tidak perlu membeli anakan atau bibit babi
dari luar wilayah desa. Sementara jika ternak babi siap dijual dengan umur 2 sampai 3 tahun
rata-rata harga jualnya Rp. 1.750.000. Dengan demikian potensi yang ada tersebut mampu
menopang kebutuhan pokok masyarakat Desa Wonokitri yang pada dasarnya cukup
tergantung dengan kondisi alam dan daya dukung usaha pertanian dan peternakan. Sementara
untuk lokasi kandang babi yang mereka miliki memang sengaja terpisah dari rumah warga.
Segala bentuk kegiatan sosial yang ada di Desa Wonokitri memberikan pengaruh
pada pemanfaatan potensi pertanian dan perternakan. Pupuk kandang, pakan hijauan dan
hajatan atau slametan adalah produk ekonomi dan sosial yang terintegrasi, serta terus-menerus
menjadi pusaran ekonomi masyarakat lokal yang tidak terputus. Produk lokal ini kemudian
diakomodir oleh masyarakat lokal baik dalam bentuk unit usaha untuk menjadi produk yang
komersial. Disamping itu hasil dari unit usaha tersebut dapat dijadikan sebagai ruang
koordinasi dan aktualisasi untuk investasi lingkungan, pertanian dan bidang lainnya.
b. Strategi Pengembangan Green Investment melalui Integrasi Potensi Pertanian dan
Peternakan
Strategi ini dirancang untuk memberikan langkah konkrit dan logis, dimana masing-
masing aspek yang terkandung dalam konsep green investment kemudian diintegrasikan
secara sistematis dan mudah untuk diterapkan. Dalam hal ini alur implementasi menjadi hal
yang penting, mengingat konsep green investment juga memperhatikan aspek sosial dan
ekonomi masyarakat lokal. Pandangan secara kompleks terhadap usaha pertanian akan
memberikan dampak integralisasi yang menghasilkan aspek-aspek yang lebih spesifik.
Aspek-aspek yang spesifik tersebut kemudian membentuk suatu bangunan yang terstruktur
sehingga mampu menghasilkan kebijakan investasi dan muncul unit-unit usaha baru. Dalam
teknisnya potensi pertanian akan memberikan dampak langsung maupun tidak langsung
terhadap kelangsungan usaha di bidang peternakan, dan sebaliknya. Siklus tersebut juga
memberikan keberlanjutan pada aktivitas usaha tani untuk bereksplorasi dan menemukan
kesempatan-kesempatan ekonomi melalui investasi hijau yang lebih komprehensif.
Pendekatan ini memberikan masyarakat lokal untuk terlibat langsung dalam mengakses
mengelola dan menerapkannya. Basis lokal yang disentuh dengan nuansa teknologi akan
memberikan percepatan pengembangan sistem yang lebih signifikan, maka untuk mendukung
hal tersebut dibuatlah suatu sitem yang khusus mengerjakan dan mengelola potensi-potensi
yang ada di desa sasaran yaitu Green Invesment Fund (GIF). Melalui mekanisme GIF maka
beberapa aktivitas ekonomi yang ada didesa akan terorganisir dengan baik, dan pemerataan
fungsi sosial yang ada akan berjalan dengan sebagaimana mestinya.
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 404

