Page 411 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 411
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
Untuk masyarakat Desa Jetak yang fokus mengusahakan komoditas kentang, dari hasil
survey 90% mereka menanam kentang. Status kepemilikan lahannya 100% milik sendiri.
Luas lahan mereka untuk dioptimalkan penanaman kentang 0.5 Ha - 1 Ha ada 33% dan 1 Ha
ada 67 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa luas lahan masyarakat desa Jetak mayoritas
sekitar 1 ha untuk ditanami komoditas kentang.
Sementara sumber modal lebih banyak diperoleh dari bagi hasil dan pinjam dengan
persentase sebesar 88% dan sisanya 12 % modal sendiri. Sumber modal yang dimiliki rata –
rata berasal dari pinjaman maupun bagi hasil sebab modal yang dibutuhkan untuk budidaya
kentang memang cukup tinggi. Resiko dalam budidaya kentang pun juga cukup tinggi terlebih
jika Gunung Bromo menyemburkan abu vulkaniknya. Walaupun demikian, masyarakat petani
di desa Jetak tetap membudidayakan tanaman kentang bahkan rata – rata sudah dari 10 tahun
yang lalu. Rata-rata harga jual kentang sampai saat ini Rp. 4.000 sampai Rp. 5.000. Bila
dibandingkan dengan harga kentang di pasar tentunya harga tersebut jauh lebih murah.
Berdasarkan data yang diperoleh bahwa 78% dari responden diketahui menanam kentang
secara monkultur sedangkan 28% yang menanam kentang dengan sistem tumpangsari.
Adapun sebagai faktor pendukung potensi pertanian pada komoditas lainnya, yaitu
potensi tanaman bawang pre (bawang daun). Petani yang menanam bawang pre ada sekitar
20% dari keseluruhan responden di Desa Jetak. Petani membudidayakan bawang pre pada
luasan lahan rata - rata sekitar 0,5 hingga 1 ha. Hampir semua Petani di Desa Jetak status
kepemillikan lahannya milik sendiri. Sementara itu, petani membudidayakan bawang pre
dengan sistem monokultur dan tumpangsari. Harga bawang pre setiap kg sampai saat ini
(September 2016) antara Rp 1.500 sampai dengan Rp 2.000. Bila dibandingkan dengan harga
pada biasanya tergolong harga rendah karena harga bawang pre sedang menurun. Rata-rata
harga jual bawang pre per kg Rp 6.000,- sampai Rp.7.000,-.Hampir sama dengan harga benih
untuk bawang pre mencapai sekitar Rp 6.000,-. Sementara setelah panen, limbah dari sisa
panen bawang pre rata - rata dipergunakan sebagai bahan dasar pupuk kompos.
Potensi berikutnya yaitu komoditas kobis, berdasarkan data yang diperoleh dalam
penelitian ini, 80% dari hasil survey menanam kubis. Lahan yang mereka usahakan untuk
penanaman kobis dengan luas lahan < 0.5 Ha sebanyak 12 %. Presentase lahan pertanian yang
ditanami kubis yaitu 0.5 Ha - 1 Ha sebanyak 38 % dan dengan luas lahan > 1 Ha sebanyak 25
%. Sehingga dapat diketahui bahwa rata – rata luasan lahan yang ditanami kubis sekitar 0,5
hingga 1 ha saja. Dalam budidaya kubis pola tanam yang banyak dilakukan adalah secara
monokultur 75% dan tumpang sari 25%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas menanam
sayuran secara monokultur. Rata-rata harga jual kobis saat ini Rp. 1.500 sampai Rp. 2.000.
Harga tentunya juga menjadi faktor pendukung masyarakat untuk melakukan budidaya
tanamn sayuran tersebut.
Potensi Pertanian di Desa Ngadas, Kabupaten Malang
Mayoritas petani di desa Ngadas membudidayakan tanaman kentang. karena sangat
cocok dibudidayakan di wilayah tersebut. Rata-rata produksi kentang yang diperoleh petani
sekitar 12 ton per ha. Pengalaman mereka melakukan usaha tani untuk komoditas kentang
lebih dari 10 tahun. Kelebihan dari kentang petani di Bromo adalah bibit yang mereka tanam
berasal dari masyarakt lokal sendiri. Sumber pasokan bibit 100% berasal dari dalam desa,
sehingga ini menjadi kelebihan masyarakat lokal untuk mempertahankan sentra produksinya
di Desa Ngadas. Dengan kelebihan tersebut tentunya mempermudah mereka untuk
mendapatkan bibit. Sementara dari sisi harga jual kentang memang cukup tinggi. yaitu sekitar
Rp. 4.000 sampai Rp. 5.000 per kg.
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 400

