Page 414 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 414
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
integrasi potensi yang saling menguatkan baik untuk usaha pertanian maupun usaha
peternakan kuda.
Integrasi Potensi Peternakan dengan Usaha Pertanian di Desa Ngadas, Kabupaten
Malang.
Peternakan yang menjadi unggulan di desa Ngadas yaitu sapi dan babi. Sapi dan babi
menjadi komoditas ternak unggulan karena baik secara nilai ekonomisnya, maupun
kemudahan dalam pemeliharaan sampai akses pakan ternak di beberapa tegalan milik
masyarakat. Potensi komoditas ternak sapi dengan kepemilikan ternak sapi sebanyak 40%
dari jumlah responden yang digunakan dalam penelitian. Rata – rata masyarakat sudah
melakukan usaha ternak dalam kurun waktu 1- 5 tahun, namun ada juga peternak yang sudah
memelihara sapi lebih dari 10 tahun. Bila ditinjau dari harga anakan ternak sapi antara Rp.
8.000.000 sampai Rp. 9.000.000. Ternak sapi tersebut dilakukan dengan baik dimana harga
jual ternaknya hingga Rp18.000.000. Sapi yang dibudidayakan termasuk sapi pedaging.
Dalam usaha ternak tersebut tentunya tidak lepas dari kandang yang kapasitasnya hanya 3
ekor saja karena masyarakat bukan termasuk peternak besar. Jika ditinjau dari rata-rata
volume kotoran ternak per 5 hari mencapai 43,75 kg, yang mana limbah ternak tersebut bisa
dipergunakan untuk bahan bakar gas, dan pupuk organik. Maka potensi tersebut menjadi
peluang bagi investor untuk terlibat secara ekonomi dalam aktivitas tersebut.
Selain sapi, komoditas ternak yang menjadi andalan di desa Ngadas adalah babi.
Ternak babi mampu memberikan alternatif pendapatan selain bidang pertanian. Harga bibit
atau anakan ternak rata-rata Rp. 250.000 jadi cukup terjangkau untuk masyarakat lapisan
menengah kebawah. Apalagi perawatan babi cukup mudah dengan jenis pakan ternak yaitu
rumput namun bisa juga dikombinasikan dengan sisa panenan atau limbah rumah tangga
organik. Sedangkan untuk lokasi kandang babi rata – rata terpisah dari pemukiman
masayarakat sehingga baunya dari kotoran babi juga tidak mengganggu masyarakat setempat.
Di sisi lain sisa hasil panen atau sayur yang tersorti tidak layak panen, akan
termanfaatkan jika petani tersebut juga memiliki usaha ternak sapi atau babi. Upaya tersebut
menjadi alternatif pengganti pakan hijauan utama tanpa menghabiskan waktu untuk
merumput. Kemudian bagi mereka yang memiliki kapasitas usaha ternak sapi yang besar,
kotoran-kotoran ternak yang ada bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar pupuk (pupuk
kandang). Saat sebagaian petani mampu memproduksi pupuk kandang secara mandiri, maka
upaya ini juga menjadi penguatan ekonomi lokal dalam hal mencukupikebutuhan pupuk di
level desa. Maka dari kasus kecil tersebut merupakan bagian integrasi potensi pertanian dan
potensi peternakan yang saling menguatkan, dan menjadi rekomendasi bagi para investor
untuk terlibat secara ekonomi.
Integrasi Potensi Peternakan dengan Usaha Pertanian di Desa Wonokitri, Kabupaten
Pasuruan.
Bagi penduduk yang memiliki modal cukup banyak, mereka tidak hanya fokus usaha
di bidang pertanian namun juga mengelola usaha peternakan walaupun bukan peternakan
besar. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa komoditas ternak sapi menjadi keharusan yang
dilengkapi untuk menjaga keutuhan stabilitas perekonomian masyarakat lokal. Setidaknuya
ada sekitar 30% dari keseluruhan masyarakat memiliki usaha peternakan, selebihnya menjadi
buruh ternak yang nantinya keuntungan usaha dibagi 50 : 50. Bila dilihat dari segi bibit atau
anakan sapi, harga bibit ternak rata-rata Rp.7.000.000 sampai Rp. 8.000.000. Dimana harga
jual rata – rata dari sapi tersebut hingga Rp 15.000.000,-. Sementara untuk pemanfaatan
kotoran ternak 100% dipergunakan untuk bahan dasar pupuk kandang. Mereka mengolah
sendiri kotoran ternak tersebut untuk menjadi pupuk kandang sehingga bisa mereka
manfaatkan untuk pertaniannya.
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 403

