Page 412 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 412
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
Tabel 3. Potensi Pertanian berdasarkan Luas Tanam di Kabupaten Malang
Komoditas Prosentase Kepemilikan Luas Penanaman
Usaha (%) Lahan Milik < 0,5 Ha 0,5 – 1 Ha > 1 Ha
Sendiri (%) (%) (%)
Kentang 70 100 15 30 55
Bawang Pre 35 100 60 0 40
Kobis 10 100 10 85 5
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2016
Berdasarkan data di atas, rata-rata produksi kentang 12 ton per Ha. Pengalaman
mereka melakukan usaha tani untuk komoditas kentang lebih dari 10 tahun. Sumber pasokan
benih 100% berasal dari dalam desa, sehingga ini menjadi kelebihan masyarakat lokal untuk
mempertahankan sentra produksinya di Desa Ngadas. Harga jual saat ini (September 2016)
yaitu sekitar Rp. 4.000 sampai Rp. 5.000 per kg.
Komoditas bawang pre juga merupakan potensi pertanian yang tidak bisa diabaikan
juga di desa Ngadas. Luas lahan yang digunakan untuk penanaman bawang pre < 0.5 Ha ada
60% dan 0.5 Ha - 1 Ha ada 40 %. Hampir di setiap wilayah pengalaman mereka dalam
membudidayakan tanaman bawang pre cukup lama. Dimana 80% dari masyarakat terutama di
desa Ngadas telah menjalani usaha penanaman bawang selama 10 tahun. Penggunaan alat dan
mesin pertanian masih konvensional mengingat kondisi lahan dengan kemiringan yang cukup
tajam. Sementara harga jual bawang pre per kg di Ngadas rata – rata sekitar Rp 8.000 hingga
Rp 9.000. Dalam membudidayakan bawang pre, petani menggunkan modal pribadi karena
modal untuk produksi bawang pre tidak semahal kentang. Hal ini didukung harga benih yang
masih terjangkau.
Komoditas yang tidak kalah pentingnya bagi masyarakat desa Ngadas adalah tanaman
kubis. Hampir seluruh kawasan Bromo menjadikan tanaman horitkultura sebagai tanaman
utama yang mereka budidayakan. Mayoritas masyarakat dengan luas lahan 0,5 Ha – 1 Ha
ditanami kubis. Benih yang digunakan 50% bersertifikasi. Harga benih saat ini sekitar Rp.
70.000,-. Petani membudidayakan kubis dengan pola tanamnya 20% ditanam secara
monokultur dan 80% secara tumpang sari.
Potensi Pertanian di Desa Wonokitri
Kondisi pertanian yang terjadi di Desa Wonokitri mengalami perubahan yang cukup
signifikan baik dari sumber daya alamnya sampai dengan kultur masyarakatnya. Hal ini
dipengaruhi oleh wilayah desa Wonokitri merupakan wialayah yang paling dekat dengan
gunung Bromo. Tetapi dengan adanya perubahan tersebut tidak mengurangi potensi yang ada,
karena dengan adanya kemajuan dalam pertanian modern juga memberikan dampak baik.
Potensi – potensi pertanian yang ada di Desa Wonokitri pun tetap terjaga.
Tabel 4. Tabel. Potensi Pertanian berdasarkan Luas Tanam di Kabupaten Pasuruan
Komoditas Prosentase Kepemilikan Luas Penanaman
Usaha (%) Lahan Milik < 0,5 Ha 0,5 – 1 Ha > 1 Ha
Sendiri (%) (%) (%)
Kentang 90 100 80 20 0
Bawang Pre 15 100 95 5 0
Kobis 25 100 89 11 0
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2016
Berdasarkan data yang diperoleh mayoritas masyarakat di Desa Wonokitri menanam
kentang. Luas lahan yang digunakan untuk membudidayakan kentang rata – rata sekitar < 0.5
Ha sebanyak 80% dan dengan luas lahan 0.5 Ha - 1 Ha ada 20 %. Sumber pasokan benih 80%
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 401

