Page 26 - PUNTHUKDARA PROJECT
P. 26

Malam  semakin  larut,  Sunan  Lawu  duduk  bersila
            menyatukan  hati mengucap  nama Yang  Maha  Tunggal.
            Dirinya terhanyut pada suasana hati yang dialami selama
            bermukim  disitu  dan  adanya  acara  yang  dilaksanakan
            oleh Eyang Ambra. Sunan Lawu tetap menjaga keadaan
            hati warga, cara yang dilakukan dengan cara yang halus.
            Yang digunakan sebagai contoh yaitu asal muasal Eyang
            Ambra  beserta  anak  cucu  dan  menantu-menantunya.
            Eyang dan Nyai Ambra yang melahirkan anak-anaknya,
            yang  awalnya  hanyalah  seseorang  yang  sendiri  lalu
            menemukan  jodoh,  nikah  dan  mempunyai  anak.
            Sehingga  disebut  sebagai  eyang.  Pada  saat  ini  Eyang
            dan  Nyai  Ambra  masih  ada,  namun  itu  tidak  langgeng.
            Suatu  saat  akan  pergi  meninggalkan  anak,  cucu  dan
            menantunya.  Selain  itu  Sunan  lawu  juga  mengambil
            contoh adanya pohon bulu di dekat rumah Eyang Cakra.
            Pohon  itu  sangat  besar  dan  lebat  daunnya,  bahkan
            sulurnya  menjuntai  sampai  ke  tanah.  Pohon  itu  sampai
            besar karena ada akar yang menancap pada tanah. Lalu
            Sunan Lawu bertanya?
                 “Pohon itu dari mana?”
                  “Tidak tahu Kanjeng Sunan, karena saya lahir pohon
            itu sudah ada.”
                 “Dari tanah Kanjeng Sunan.”
                 Sunan Lawu melanjutkan pertanyaannya.
                 “Tanah itu dari mana?”
                 Tanpa  diduga  oleh  Sunan  Lawu  pintu  diketuk  oleh
            seseorang  dan  menyebut  namanya.  Terlihat  beberapa



              25    Bukit Merpati di Lereng Lawu
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31