Page 219 - Simulasi, Derteksi, dan Intervensi dini tumbuh kembang anak
P. 219

PEDOMAN PELAKSANAAN
               Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar

                    mereka, serta menghindari terjadinya kesalahan persepsi. Selain itu, petugas kesehatan
                    perlu  menyampaikan  dukungan  dan  komitmen  untuk  siap  membantu  di  saat  sekarang
                    maupun di masa mendatang.

                    P: Permisssion, Partnership, Plan (Izin, Kemitraan, Rencana)
                    Petugas kesehatan meminta izin atau kesediaan orang tua terlebih dahulu apabila hendak
                    bertanya mengenai hal yang bersifat sensitif atau ketika hendak memberikan saran untuk
                    evaluasi dan penanganan lebih lanjut.
                    Petugas kesehatan bermitra atau bekerjasama dengan orang tua untuk mengidentifikasi
                    adanya  kendala  atau  halangan  yang  dapat  mengganggu  jalannya  intervensi,  mencari
                    strategi untuk mengatasi kendala tersebut, dan membuat kesepakatan mengenai langkah
                    apa yang mungkin dicapai (atau sekedar langkah pertama yang dapat dicapai).
                    Petugas  kesehatan  mengajak  orang  tua  untuk  membuat  sebuah  rencana.  Rencana
                    tersebut dapat termasuk misalnya membuat catatan harian tentang gejala dan pemicu,
                    mengumpulkan  informasi  dari  sumber  lain  seperti  sekolah  anak,  membuat  perubahan
                    gaya  hidup,  menerapkan  strategi  positif  atau  teknik  manajemen  diri,  mencari  tempat
                    rujukan  untuk  memperoleh  pemeriksaan  atau  penanganan  lebih  lanjut,  dan  lain
                    sebagainya.


                   Teknik Komunikasi Terapeutik
                    Petugas  kesehatan  menggunakan  teknik  komunikasi  terapeutik  sebagai  berikut  selama
                    pelaksanaan intervensi awal:
                    1.  Mengawali interaksi dengan memberikan sapaan dan memperkenalkan diri
                    2.  Menempatkan posisi duduk yang setara dengan klien
                    3.  Melakukan kontak mata, ekspresi wajah menunjukkan keramahan, sikap tubuh rileks
                       dan terbuka, berbicara dengan nada bicara yang lembut
                    4.  Mengawali  percakapan  dengan  pertanyaan  terbuka  yang  mendorong  klien  untuk
                       memberikan  penjelasan  seluas-luasnya.  Pertanyaan  tertutup  yang  memancing
                       jawaban “Ya” atau “Tidak” sebaiknya hanya digunakan seperlunya saja
                    5.  Mendengarkan  secara  aktif,  yaitu  memperhatikan  dengan  penuh  apa  yang
                       disampaikan secara lisan, maupun ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang ditampilkan
                       oleh klien
                    6.  Merefleksikan apa yang dirasakan oleh klien berdasarkan hasil pengamatan. Contoh:
                       “Anda kelihatan sedih sekali”
                    7.  Menunjukkan perhatian atas apa yang disampaikan oleh klien dengan respon non-
                       verbal  (contoh:  Mengangguk-angguk,  tersenyum  saat  hal  yang  disampaikan
                       menyenangkan, mengerutkan dahi saat hal yang disampaikan memprihatinkan, dan
                       lain  sebagainya)  maupun  respon  verbal  (contoh:  Respon  pendek  seperti  kata  “Oh
                       begitu…”, “Lalu?”, “He em…”)
                    8.  Mengekspresikan dukungan, pemahaman, dan kepedulian atas apa yang disampaikan
                       klien
                    9.  Menghindari hal-hal sebagai berikut:
                       •   Mengajukan pertanyaan pribadi yang tidak relevan dengan permasalahan yang
                           sedang dibicarakan



              196
   214   215   216   217   218   219   220   221   222   223   224