Page 52 - buku 1 kak emma_merged (1)_Neat
P. 52
Prof. Dr. Achmad Mochtar: Ilmuwan Kelas Dunia Korban Kejahatan Perang Jepang
dengan mengatakan: “Hinggo ko ka mudiak (dari sini ke
mudik/hulu) untuk tujuh suku, hinggo ko ka hilia (dari sini ke
hilir) untuk tujuh suku (pula).” Lama kelamaan, pengucapan
kata-kata hinggo ko atau inggan iko berubah menjadi “ganggo”
dan kata ka (ke) hilang, maka jadilah nama kedua nagari ini
sebagai Ganggo Mudiak dan Ganggo Hilia. 2
Akan hal munculnya nama Bonjo atau Bonjol, juga
terkait dengan peristiwa Perang Paderi, perang menghadapi
kolonial Belanda salah satu yang terpanjang dihadapi Belanda
di Indonesia (1821-1838). Dalam usaha manaklukan daerah
darek Minangkabau, pemerintah kolonial Hindia Belanda
harus mengerahkan jumlah pasukan yang sangat banyak
hingga puluhan ribu. Peperangan tersebut juga memakan
waktu yang sangat lama, yaitu 17 tahun. Lamanya Perang
Paderi menunjukkan betapa kerasnya usaha kolonial Belanda
untuk menaklukkan daerah darek Minangkabau dan betapa
kuatnya pertahanan pasukan Paderi di Benteng Bukit Tajadi
yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Dalam bahasa atau dialek
setempat, untuk bisa menaklukkan benteng Tuanku Imam,
pasukan Hindia Belanda harus melakukannya dengan cara
“baonjo-onjo” (berusaha sangat keras secara berulang-ulang).
2 Lihat “Sejarah Nagari” dalam Profil Nagari Ganggo Hilia, tt., arsip Kantor Wali
Nagari Ganggo Hilia. Versi sedikit berbeda diungkapkan oleh Teddy, pemuka
masyarakat yang juga anggota keluarga pewaris Nan Sajati, kaum terkemuka
pemilik ulayat paling luas di Nagari Ganggo Mudiak. Wawancara dengan Teddy,
1 Desember 2020. Menurut Teddy, pihak yang ikut menyelesaikan konflik
antar-suku tersebut adalah pucuk adat dari Rao yang masih satu keturunan asal
Pagaruyung dengan pemuncak adat di Alahan Panjang.
23