Page 53 - buku 1 kak emma_merged (1)_Neat
P. 53
Hasril Chaniago, Aswil Nazir, dan Januarisdi
Dari istilah itu kemudian lahir kata “bonjo” dan selanjutnya
3
berubah menjadi “bonjol”.
Dalam perkembangan selanjutnya, ditambah dua nagari
lagi, Koto Kaciak dan Limo Koto, oleh para datuk yang
mempunyai kuasa wilayah masing-masing, Bonjol disepakati
menjadi nama satu kesatuan wilayah adat yang disebut “Adat
Rajo Ampek Selo”. Artinya ada empat pemegang tampuk
kekuasaan di empat nagari yang ada dalam “Adat Salingka
Nagari Bonjo”. Mereka adalah Datuak Bandaharo di Ganggo
Hilia, Datuak Sati di Ganggo Mudiak, Datuk Sati di Limo
Koto, dan Datuak Bagindo Kali di Koto Kaciak. 4
Setelah kemerdekaan hingga kini, nama Bonjol menjadi
nama kecamatan di Kabupaten Pasaman yang terdiri atas empat
nagari: Ganggo Hilia, Ganggo Mudiak, Limo Koto, dan Koto
Kaciak. Nama Bonjol dilekatkan pula kepada nama pemimpin
dan pahlawan Perang Paderi, Tuanku Imam Bonjol, yang nama
sebenarnya adalah Muhmmad Syahan bergelar Peto Syarif.
Sejak setelah Paderi pula masyarakat Alahan Panjang, baik
Ganggo Hilia maupun Ganggo Mudiak, mengidentifikasikan
diri mereka sebagai orang Bonjol. Termasuk Prof. Dr. Achmad
Mochtar, tokoh yang biografinya kita kupas dalam buku ini,
yang dalam biodata yang ditulisnya sendiri menyebutkan
Bonjol sebagai tempat lahirnya.
Dalam geografi Kecamatan Bonjol, Nagari Ganggo
Mudiak memiliki wilayah yang paling luas, yakni 9.660
3 Ibid.
4 Ibid.
24