Page 58 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 03 MARET 2020
P. 58
Title CELAKA NASIB PEKERJA DI RUU CILAKA
Media Name kumparan.com
Pub. Date 02 Maret 2020
Page/URL https://kumparan.com/kumparannews/celaka-nasib-pekerja-di-ruu-cilaka-1 swnN1D3J70
Media Type Pers Online
Sentiment Negative
"Nanti adik-adik saya, keturunan saya, selamanya akan mendapatkan status kerja
kontrak atau outsourcing. Tidak punya kepastian kerja, tidak ada perlindungan
untuk karyawan," ucap Eni, pekerja PT Kahatex Cimahi, dengan suara bergetar
penuh emosi.
Dihubungi melalui sambungan telepon pada Sabtu (29/2), Eni tak bisa
menyembunyikan kekhawatirannya atas omnibus law bernama Rancangan Undang-
Undang Cipta Lapangan Kerja (RUU Cilaka)---pemerintah kemudian mengganti
namanya jadi RUU Cipta Kerja.
Eni tak hanya memikirkan nasibnya yang telah 23 tahun bekerja di pabrik tekstil itu.
Ia justru mencemaskan nasib pekerja-pekerja baru, mereka yang berusia setengah
dari umurnya sekarang, lulusan SMK atau bahkan sarjana-sarjana muda pencari
kerja.
Kekhawatiran Eni bukan tanpa alasan. Ia membaca perubahan sejumlah pasal
terkait ketenagakerjaan dalam omnibus law yang akan berdampak bukan hanya
pada buruh, tapi seluruh angkatan kerja di Indonesia yang berjumlah 133,94 juta
jiwa.
Dalam beleid setebal 1.028 halaman ini, dinyatakan bahwa Ketentuan Pasal 59 UU
Ketenagakerjaan yang mengatur syarat dan batasan status pekerja kontrak
(Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) dihapus. Sementara bunyi Pasal 56 ditambahkan
poin yang mengatakan bahwa jangka waktu PKWT ditentukan berdasarkan
kesepakatan pekerja dan pemberi kerja.
Aturan tersebut membuka peluang pengusaha memperkerjakan karyawan kontrak
untuk segala jenis pekerjaan, bahkan di bidang inti usaha, dan memberlakukan
status PKWT terus-menerus tanpa batas waktu.
Kekhawatiran Eni tak berhenti di situ. Ia juga mencemaskan nasib pekerja
perempuan yang minim perlindungan.
"Upah cuti hamil juga akan dihilangkan. Lah terus kemudian sebagai buruh
perempuan, apa yang kita dapatkan? Di situ tidak dibahas satu pun tentang
perlindungan buruh perempuan," kata Eni. Suaranya tersekat, penuh cemas
bercampur amarah.
Page 57 of 99.

