Page 35 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 JANUARI 2020
P. 35

Title          INI 6 ALASAN BURUH TOLAK RUU OMNIBUS LAW
               Media Name     kompas.com
               Pub. Date      07 Januari 2020
                              https://money.kompas.com/read/2020/01/07/112743426/ini-6-alasan-buruh- tolak-ruu-
               Page/URL
                              omnibus-law
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative







               Pemerintah saat ini tengah menggodok RUU Omnibus Law yang mencakup aturan
               cipta lapangan kerja dan aturan perpajakan. Aturan ini dibuat untuk mengakomodir
               aturan-aturan lama yang dinilai terpecah-pecah dan menghambat sektor ekonomi
               untuk berkembang.

               Namun, serikat buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia
               (KSPI) menilai RUU omnibus law bukan cara terbaik untuk meningkatkan investasi
               dan menciptakan lapangan kerja. Presiden KSPI, Said Iqbal menilai omnibus law
               merupakan cara terbaik untuk menghancurkan kesejahteraan para pekerja.

               Maka dari itu, kata Iqbal, ada 6 hal yang menjadi poin penolakan dari serikat buruh
               terkait dengan RUU Omnibus Law, antara lain sebagai berikut.

               1. Menghilangkan upah minimum

               Dampak terburuk yang secara langsung dirasakan buruh adalah hilangnya upah
               minimum. Hal ini, terlihat, dari keinginan pemerintah yang hendak menerapkan
               sistem upah per jam. Dengan kata lain, pekerja yang bekerja kurang dari 40 jam
               seminggu, maka upahnya otomatis akan di bawah upah minimum.

               "Memang, ada pernyataan yang mengatakan jika pekerja yang bekerja 40 jam
               seminggu akan mendapat upah seperti biasa. Sedangkan yang di bawah itu
               menggunakan upah per jam," kata Iqbal, Selasa (7/1/2020).

               Iqbal menilai hal ini akan semakin menyengsarakan bagi pekerja yang sakit,
               menjalankan ibadah sesuai kewajiban agamanya, atau cuti melahirkan. Dimana
               upahnya tidak lagi dibayar karena pada saat itu dianggap tidak bekerja.

               Namun demikian, menurutnya, hal ini hanya akal-akalan. Sebab dalam praktik, akan
               sangat mudah bagi pengusaha untuk menurunkan jam kerja, sehingga pekerja tidak
               lagi bekerja 40 jam. Lagipula, penerapan yang berbeda seperti ini adalah bentuk
               diskriminasi terhadap upah minimum.

               "Upah minimum adalah upah minimum, berlaku bagi semua warga negara yang
               bekerja sebagai jaring pengaman. Tidak ada dua istilah, misalnya upah minimum
               bulanan dan upah minimum per jam," terang Iqbal.





                                                       Page 34 of 74.
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40