Page 185 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 FEBRUARI 2020
P. 185

Title          HIPPI BERHARAP TIDAK ADA PASAL MULTITAFSIR DALAM OMNIBUS LAW
               Media Name     kontan.co.id
               Pub. Date      16 Februari 2020
                              https://nasional.kontan.co.id/news/hippi-berharap-tidak-ada-pasal-mult itafsir-dalam-
               Page/URL
                              omnibus-law
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive










               Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman
               Simanjorang meminta, agar jangan sampai ada pasal-pasal karet atau pasal
               multitafsir dalam rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law cipta kerja.

               "Jelas, kita harap tidak ada pasal-pasal karet atau pasal-pasal multitafsir," ujar
               Sarman ketika dihubungi, Minggu (16/2).

               Pasalnya, lanjut dia, dunia usaha butuh kepastiaan yakni kepastian hukum,
               kepastian perizinan, keamanan, dan keberlangsungan usaha. Ia juga meminta,
               peraturan turunan omnibus law itu dapat memerinci dengan tepat teknis aturan.

               Misalnya terkait berapa lama waktu perizinan, biaya yang dibutuhkan dan hal
               lainnya. "Selama ini kebijakan tumpang tindih dan berbelit-belit," ungkap dia.

               Sementara itu, Ajib Hamdani, Ketua Bidang Ekonomi dan Keuangan Badan Pengurus
               Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi), mengatakan, jika
               dicermati stagnasi peringkat Indeks Kemudahan Berbisnis ( ease of doing business
               index /EoDB) di Indonesia terutama karena faktor Ketenagakerjaan dan faktor
               Perpajakan.

               Ia menyebutkan, dua faktor penghambat naiknya peringkat EoDB tersebut yang
               kemudian pemerintah berinisiasi membuat deregulasi dalam bentuk 2 draft Omnibus
               Law.

               Ajib mengatakan, dalam konteks ketenagakerjaan adalah tentang produktivitas,
               daya saing dan regulasi yang terlalu complicated .

               Sedangkan dalam konteks Pajak, competitive Indonesia masih lemah di tarif dan
               objek pajak yang dianggap banyak double taxation .

               "Dengan deregulasi Omnibus Law ini diharapkan pemerintah bisa mengerek
               peringkat EoDB di kisaran 40-50 dunia," ungkap Ajib.









                                                      Page 184 of 336.
   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190