Page 918 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 918

Kemudian,  Allan  melanjutkan,  materi  muatan  RUU  Ciptaker  bertentangan  dengan  UUD  1945
              antara lain, berpotensi mereduksi hak otonomi seluas-luasnya yang diberikan kepada Pemerintah
              Daerah  baik  Provinsi  maupun  Kabupaten  berdasarkan  Pasal  18  ayat  (5)  UUD  1945.  Seperti
              pemangkasan beberapa kewenangan yang dimiliki pemerintah daerah (Pemda) baik provinsi,
              hingga kabupaten/kota.

              "Hilangnya  kewenangan  memeroses  dan  menerbitkan  analisis  mengenai  dampak  lingkungan
              hidup (amdal) dan izin lingkungan, hilangnya konsultasi penentuan wilayah potensial minyak dan
              gas bumi, dipangkasnya kewenangan ketenagalistrikan, dan hilangnya memberikan persetujuan
              kawasan ekonomi khusus," bebernya.

              Allan menjelaskan RUU ini juga mereduksi prinisip perekonomian nasional yang berkelanjutan
              berwawasan lingkungan (environmental sustainable development) berdasarkan Pasal 33 ayat (4)
              UUD 1945, serta mereduksi jaminan konstitusional setiap orang untuk mendapat lingkungan
              hidup yang baik berdasarkan Pasal 28H ayat (1) UUD 1945.

              Di antaranya, Allan menguraikan menghapus izin usaha perkebunan dengan mekanisme amdal,
              analisis dan manajemen risiko hasil rekayasa genetik, menanggulangi kebakaran; menghapus
              batas ketentuan minimum 30% kawasan hutan yang harus dipertahankan untuk Daerah Aliran
              Sungsi (DAS) dan/atau pulau.

              "Sehingga,  kawasan  hutan  dapat  dipergunakan  untuk  kegiatan  berusaha  yang  mengabaikan
              upaya pelestarian lingkungan hidup," terang Allan.

              Menurut Allan, RUU Ciptaker juga mereduksi hak setiap orang untuk bekerja serta mendapat
              imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja berdasarkan Pasal 28D UUD
              1945.  Seperti  pengaturan  upah  minimum  yang  tidak  lagi  diarahkan  kepada  pencapaian
              kebutuhan hidup layak tetapi berdasarkan kondisi pertumbuhan dan inflasi ekonomi daerah serta
              ketenagakerjaan,  kenaikan  pengaturan  jam  lembur  kerja,  menghilangkan  ketentuan  istirahat
              panjang yang sebelumnya diatur secara ketat, serta mengubah ketentuan uang pesangon dan
              uang penghargaan menjadi lebih tidak proporsional dan tidak berkeadilan.
              Karena  itu,  dia  menegaskan  berdasarkan  uraian  catatan  buruk  tersebut,  pihaknya  mengajak
              masyarakat melakukan upaya untuk 'menjegal' RUU Cipta Kerja secara konstitusional. Lewat uji
              materi  UU  Ciptaker  ke  Mahkamah  Konstitusi  (MK),  atau  mendesak  Presiden  Jokowi
              mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti UU (Perppu). (kri).





























                                                           917
   913   914   915   916   917   918   919   920   921   922   923