Page 211 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 APRIL 2020
P. 211
Title EKONOM : RUU CIPTA KERJA DIBUTUHKAN PEMULIHAN PASCA COVID-19
Media Name antaranews.com
Pub. Date 23 April 2020
https://www.antaranews.com/berita/1439776/ekonom-ruu-cipta-kerja-dibut uhkan-
Page/URL
pemulihan-pasca-covid-19
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
Ini semua dibutuhkan supaya kita bisa memanfaatkan momentum bonus demografi
dan lepas dari jeratan negara berpendapatan menengah,
Jakarta - Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menilai Omnibus Law
Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja adalah bagian dari pendekatan
institusional yang dibutuhkan porsinya sesuai kebutuhan masyarakat untuk
dilakukan pemulihan industri pasca Covid-19.
"Akan muncul supply shock pasca pandemi ini karena ada peningkatan jumlah
pengangguran. Saya menghitung bisa sampai 7 juta pengangguran baru dan yang
paling terdampak sektor informal. Ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan
fiskal dan moneter saja, tapi harus secara institusional," kata Fithra dalam diskusi
virtual bertajuk RUU Cipta Kerja dan Masa Depan Ekonomi Indonesia Pasca Pandemi
Covid-19, Kamis, di Jakarta.
Pendekatan institusional ini, menurut Fithra, sejak awal memang dibutuhkan karena
perekonomian Indonesia memang mengalami tren deindustrialisasi.
"Sebelum Covid, kita juga mengalami permasalahan sisi produktifitas di bidang
industri salah satunya dipengaruhi produktifitas buruh kita. Covid bisa membuat ini
semakin parah," kata Fithra.
Secara prinsip, pendekatan institusional dengan memperbaiki regulasi, reformasi
ketenagakerjaan, dan reformasi perpajakan diakomodasi dalam Omnibus Law RUU
Tenaga Kerja.
"Ini semua dibutuhkan supaya kita bisa memanfaatkan momentum bonus demografi
dan lepas dari jeratan negara berpendapatan menengah," kata Fithra.
Momentum pasca pandemi Covid-19 juga harusnya dimanfaatkan karena banyak
negara-negara utama produsen dunia, sangat mungkin melakukan relokasi industri
dari Cina. Asia Tenggara, jadi salah satu wilayah yang sangat potensial
memanfaatkan hal ini.
"Sayangnya, Indonesia saat ini belum jadi pilihan utama bagi investor. Biaya tenaga
kerja, biaya perdagangan, dan nilai tambah kita masih kalah dibanding negara
Page 210 of 250.

