Page 428 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 428

Untuk itu, ketika UU dan PP tersebut belum berlaku, maka penentuan upah seharusnya masih
              mengikuti ketentuan lama yang ada di UU 13/2003 dan PP 78/2015. Sebab, kedua aturan itu
              juga belum dicabut.

              Kedua, formula upah dengan PP 36/2021 tidak sesuai dengan kesepakatan antara presiden dan
              DPR yang hanya menyepakati UU Cipta Kerja. Selain itu, ia menilai formula PP 36/2021 aneh
              karena memberlakukan upah batas atas dan bawah kepada buruh.

              Ketentuan  Omnibus  Law  “Menurut  omnibus  law,  kenaikannya  dari  inflasi  atau  pertumbuhan
              ekonomi, tidak ada dijabarkan seperti Menteri Ketenagakerjaan (Ida Fauziyah) yang pakai PP
              36, jadi itu inkonstitusional karena ada batas atas dan bawah yang tidak dikenal di omnibus law.
              Kok mereka jilat ludah sendiri?” ucapnya.

              Ketiga, menurut Said, ketentuan upah minimum dengan batas atas dan bawah juga tidak berlaku
              di Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) karena upah minimum adalah jaring pengaman
              nasional  (safety  net).  Bahkan,  ia  mengklaim  tidak  ada  satu  negara  pun  di  dunia  yang
              menerapkan batas atas dan bawah pada upah minimum buruh.

              “Di seluruh dunia, silakan periksa, di ILO pun, saya tidak pernah menemukan satu negara di
              dunia ada batas atas dan bawah dalam penetapan upah. Satu-satunya yang ada di pengusaha
              transportasi umum, ada itu batas atas dan bawah. Jangan-jangan orang menetapkan PP 36/2021
              ini banyak dari pengusaha transportasi, jadi mentalnya mental pengusaha transportasi,” ujarnya.

              Keempat,  ia  menilai  besaran  kenaikan  UMP  2022  bila  merujuk  PP  36/2021  justru  tidak
              memberikan  kenaikan  upah  kepada  buruh.  Bahkan,  ia  menilai  buruh  justru  ‘nombok’  untuk
              menutup selisih pendapatan dengan pengeluarannya nanti.

              Pasalnya, rata-rata kenaikan UMP 2022 cuma 1,09 persen. Sementara inflasi alias kenaikan harga
              barang-barang kebutuhan pokok sudah lebih dari angka tersebut, tepatnya 1,66 persen secara
              tahunan pada Oktober 2021.
              “Dari akal sehat juga sudah kelihatan kalau kita nombok. Terus pemerintah, menteri bilang naik?
              Naik apanya? Mereka pikir rakyat bodoh? Buruh bodoh? Jangankan naik, menyesuaikan inflasi
              saja tidak,” katanya.

              Kasus di Depok Kelima, Said mengatakan formula ini justru berpotensi membuat pengusaha
              menurunkan upah buruh. Ia memberi contoh, misalnya terhadap upah minimum kabupaten/kota
              (UMK) Depok.

              Pada tahun ini, UMK Depok sebesar Rp4,33 juta. Lalu, bila merujuk pada rumus dari pemerintah,
              maka besaran batas atas UMK 2022 sebesar nilai per kapita Depok Rp2,3 juta dikali jumlah rata-
              rata ART di Depok 3,6 dibagi indeks upah 1,44 sama dengan Rp5,75 juta.

              “Saya tidak tahu ini dari mana dapatnya 3,6 ini dan 1,44 ini, mungkin kita dibodoh-bodohi saja,”
              imbuhnya.

              Sementara batas bawah UMK 2022 sebesar Rp5,75 juta dikali 50 persen sama dengan Rp2,87
              juta. Artinya, rentang upah minimum di Depok berada di kisaran Rp2,87 juta sampai Rp5,75 juta
              pada tahun depan.

              “Ya kalau jadi pengusaha, boleh tidak saya turunkan upah minimumnya jadi batas bawah? Ya
              boleh, makanya saya bilang kita hanya dibodoh-bodohi. Kalau pengusaha boleh bayar Rp2,8
              juta, ya naik jadi genap Rp2,9 juta lah, itu sudah turun 50 persen dari sekarang, siapa yang mau
              bayar Rp5,7 juta kalau boleh bayar Rp2,8 juta? Aneh kan,” jelasnya.



                                                           427
   423   424   425   426   427   428   429   430   431   432   433