Page 567 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 567

TOLAK KENAIKAN UMP, SERIKAT MINTA PP 36 DIREVISI

              SAMARINDA, nomorsatukaltim.com – Kenaikan UMP Kaltim 2022 terus mendapat penolakan dari
              komponen buruh dan pekerja. Melalui 6 serikat pekerja, mereka menuntut pemerintah merevisi
              dasar penetapan upah. Pengerahan massa akan dilakukan jika tuntutan tak dipenuhi.

              Ketua Serikat Pekerja Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), Sulaeman Hattase
              mendesak pemerintah mencabut dasar penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2022.

              Aturan  yang  dimaksud  ialah  Peraturan  Pemerintah  Nomor  36  tahun  2021,  sebagai  turunan
              Undang-Unnag Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              PP tersebut dinilai merugikan pekerja karena menghapus komponen hidup layak (KHL) yang
              selama ini menjadi acuan dalam penetapan UMP. Sebagai gantinya, beleid baru menggunakan
              acuan batas atas dan batas upah dengan rumusan tertentu.
              “Kalau keputusan itu ditetapkan, artinya sama saja pemerintah mendukung upah murah. Maka
              sudah selayaknya direvisi atau dicabut,” kritik Sulaeman.

              Ia  menilai,  penerapan  aturan  dilakukan  setengah-setengah.  Jika  mengacu  PP  36/2021,
              seharusnya komponen yang digunakan ialah berdasarkan inflasi nasional sebesar 1,68 persen.
              Ini akan berdampak baik bagi buruh.

              “Bukan menggunakan inflasi daerah yang lebih rendah. Kami ada usulan untuk mengikuti inflasi
              nasional 1,68 persen. Sehingga ada kenaikan Rp 50 ribu. Tidak tinggi, tetap datar,” ujarnya.

              Asal tahu saja, Dewan Pengupahan menetapkan UMP Kaltim 2022 dengan penghitungan inflasi
              daerah, sehingga naik Rp 33.118,50 dari UMP 2021. Dengan kenaikan itu, UMP tahun depan
              menjadi Rp 3.014.497,22.

              Ketua DPD Forum Serikat Pekerja Perkayuan dan Kehutanan Indonesia (FSP Kahutindo) Sukarjo
              mengakui jika penetapan inflasi daerah diambil lantaran pertumbuhan ekonomi Kaltim 2019-
              2020, jauh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Hanya 1 persen.

              “Karena yang lebih tinggi inflasi, ya kita pakai inflasi kaltim yang 1,11 persen itu,” ujarnya dalam
              kesempatan terpisah.

              Ia menyebut meski sudah menggunakan angka inflasi Kaltim untuk penentuan UMP, namun
              unsur serikat pekerja dan buruh di Kaltim tidak setuju dengan besaran UMP Kaltim 2022. Karena
              formulasi PP 36/2021 menghasilkan angka yang terlalu minim.

              “Semua unsur serikat tidak menandatangani berita acara. Alasannya pertama formulasi di PP 36
              itu bermuara kepada melegalkan upah murah,” katanya.

              Menurutnya  formula  pada  PP  78/2015  yang  lebih  bagus.  Hanya  karena  sudah  dicabut  dan
              dihapus, maka PP tersebut tidak bisa lagi dijadikan acuan.

              “Serikat mengusulkan menggunakan parameter yang realistis saja. Untuk mempertahankan daya
              beli, serikat pekerja menghendaki, ya sudahlah jangan 1,11 tapi pakai yang 1,68 persen itu. Jadi
              kenaikannya sekitar Rp 50 ribu sekian,” urainya.
              Sayangnya,  kata  dia,  keinginan  unsur  buruh  dalam  pembahasan  itu  tidak  direalisasikan.
              Pemerintah tetap bersikukuh mempertahankan kenaikan UMP sesuai formula yang sudah diatur
              dalam  PP  36/2021.  Sementara  saat  ini,  serikat  buruh  meyakini  hal  tersebut  sebagai  upaya
              melegalkan upah murah, sehingga keenam serikat pekerja sepakat akan melakukan aksi unjuk
              rasa yang ditujukan kepada Gubernur Kaltim Isran Noor.

                                                           566
   562   563   564   565   566   567   568   569   570   571   572