Page 390 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 APRIL 2020
P. 390

Tapi sejak kasus corona meruak, kafe tempatnya bekerja sepi pengunjung. Total
               penjualan turun hingga 50 persen.


               Jodi tahu kondisi itu, tapi kecewa karena diputus kerja tanpa uang saku apapun. Ia
               hanya berharap setidaknya pemutusan hubungan kerja bisa berjalan sesuai aturan.

               Berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan
               Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Kep-100/MEN/VI/2004
               tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, pihak yang
               mengakhiri hubungan kerja diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak lainnya
               sebesar upah pekerja/buruh, sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu
               perjanjian kerja.

               Artinya, Jodi dan pekerja kontrak lainnya berhak menerima gaji sisa kontrak yang
               belum habis sebelum waktunya itu.

               "Buat gue ya itu artinya di-PHK aja gitu. Gue sangat kecewa. Nggak ada pesangon
               atau apapun itu," keluhnya kepada kumparan, Rabu (8/4).


               Tapi ia tak berdaya, lembar kontrak kerja tak ada di tangannya. Dulu, usai meneken
               perjanjian kerja, semua berkas dikembalikan ke HRD (Human Resource
               Department). Tak ada salinan selembar pun untuk disimpannya

               "Jadi gue gak tau dan lupa isinya apa aja," ucap Jodi.


               Nasib serupa juga terjadi pada Jihan (bukan nama sebenarnya). Sudah satu tahun
               lebih dua bulan ia bekerja di sebuah tempat bimbingan belajar, tanpa memiliki
               kontrak kerja dalam bentuk apapun.



               "Di sini nggak pake kayak gituan. Interview, kalau lolos lalu di-training. Udah,
               langsung kerja," ucap Jihan saat berbincang dengan kumparan.

               Sejak tanggal 23 Maret, Jihan tak lagi dipekerjakan sebagai guru bimbel. Namun
               saat itu belum ada kepastian apapun.

               Tempatnya bekerja masih berupaya untuk mengadakan kelas online. "Tapi nggak
               ada peningkatan," ucap Jihan.


               Ia sudah mendapat firasat akan kehilangan pekerjaan setelah melihat empat orang
               rekan kerjanya di-PHK lebih dulu.


               "Aku bisa dibilang kloter kedua. Pertama itu empat orang, terus dua orang, kemarin
               katanya dua orang lagi," papar gadis asal Tegal ini.


               Beberapa hari setelah dipecat, Jihan akhirnya memutuskan untuk pulang ke
               kampung halamannya. Ia tahu tanpa penghasilan, meskipun hanya sekitar Rp 3,5
               juta per bulan, tak mungkin ia tetap bertahan di Jakarta.




                                                      Page 389 of 394.
   385   386   387   388   389   390   391   392   393   394   395