Page 391 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 APRIL 2020
P. 391

"Apalagi karena ada kabar Tegal mau di-lockdown. Jadi sebelum di-lockdown, aku
               udah pulang sih."


               Status kerja yang tak jelas membuat Jihan tak bisa menagih uang pesangon.
               Penghasilannya bulan terakhir memang dilebihkan, tapi tak mencapai setengah dari
               nilai gaji.

               "Kemarin sih ada uang tambahan, tapi nggak tahu itu pesangon atau bukan.
               Infonya cuma dibilang itu bonus tambahan," ucap Jihan.

               Pilihan kembali ke kampung halaman jadi opsi paling masuk akal, sebab dengan
               begitu ia bisa mengirit pengeluaran dan bertahan dengan sisa uang tabungan.

               "Di tempat kerjaku nggak ada istilah pesangon. Kita sebagai karyawan yang nggak
               jelas ini bisa apa? Paling bisanya pasrah aja," keluhnya lemas.

               Jodi dan Jihan hanya dua dari jutaan orang yang bernasib hampir serupa.
               Kehilangan pekerjaan, satu-satunya sumber penghasilan, dan tanpa kepastian di
               masa depan.

               Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan per 7 April 2020, terdapat 39.977
               perusahaan yang merumahkan 873.090 karyawan dan mem-PHK 137.489 pekerja.
               Sementara di sektor informal, ada 189.452 orang kehilangan pekerjaan.

               Merumahkan yakni tetap terikat kontrak, namun karyawan tidak dipekerjakan untuk
               sementara waktu. Gaji dibayarkan setiap bulan, namun dipotong sebagian bahkan
               sampai 70 persen.

               Sebagian lainnya sama sekali tidak mendapat gaji selain janji untuk bisa kembali
               bekerja nanti. Sementara untuk yang di-PHK jelas mendapat pemutusan kontrak
               kerja secara resmi dan permanen.

               "Total jumlah perusahaan yang merumahkan pekerja dan PHK sebanyak 74.430
               perusahaan, dengan jumlah pekerja/buruh/tenaga kerja sebanyak 1.200.031
               orang," kata Menaker Ida Fauziyah melalui keterangan tertulis, Rabu (8/4).

               Sebelum gelombang PHK karena wabah corona berlangsung, Ida pernah
               mengeluarkan Surat Edaran No. M/3/HK.04/III/2020 tentang Perlindungan
               Pekerja/Buruh dan Kelangsungan Usaha dalam Rangka Pencegahan dan
               Penanggulangan COVID-19. Dalam surat edaran itu, selain imbauan untuk
               mencegah penyebaran virus, tak ada kalimat tegas bahwa perusahaan dilarang
               memecat karyawannya.

               "Bagi perusahaan yang melakukan pembatasan kegiatan usaha... sehingga
               menyebabkan sebagian atau seluruh pekerja tidak masuk kerja... perubahan
               besaran maupun cara pembayaran upah dilakukan sesuai dengan kesepakatan
               pekerja dan pengusaha," bunyi terakhir dari surat edaran tersebut.






                                                      Page 390 of 394.
   386   387   388   389   390   391   392   393   394   395