Page 151 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 MEI 2020
P. 151

Gugus Tugas juga menetapkan empat poin yang akan dilaksanakan bila
               pelonggaran PSBB mulai diterapkan. Pertama, melakukan pengkajian dan sosialisasi.
               Doni mengakui, kajian baru akan dibuat pemerintahbersama pakar epidemiologi,
               kesehatan masyarakat, sosiologi, komunikasi publik, dan ekonomi.

               Poin kedua adalah penentuan waktu pelonggaran. "Daerah baru bisa menjalankan
               pelonggaran apabila sudah menunjukkan penurunan kurva kasus positif Covid-19."
               Adapun hal penting ketiga yang dipertimbangkan ialah perihal sektor dan daerah
               yang berhak mendapat kelonggaran. Terakhir, koordinasi antara pemerintah pusat
               dan daerah.

               Penentuan waktu pelonggaran, menurut Doni,juga bergantung pada kesiapan
               masyarakat. Bila masyarakat tidak siap, pelonggaran tidak mungkin dilakukan. Jika
               masyarakat dianggap belum patuh melaksanakan protokol pencegahan Covid-19,
               pembatasan sosial tetap berlaku secara penuh. "Manakala tingkat kepatuhan kecil,
               tentu kita tidak boleh ambil risiko," kata Doni.

               Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, mendesak pemerintah mengkaji
               ulang rencana pelonggaran pembatasan sosial. Dia menilai wacana pelonggaran
               pembatasan sosial tidak didasarkan pada data yang teruji secara ilmiah dan
               transparan, sehingga dikhawatirkan bakal meningkatkan risiko penyebaran Covid-
               19.

               Evaluasi pembatasan sosial, kata Dicky, harus didukung oleh data yang valid,
               terutama angka reproduksi kasus (Ro) Covid-19 sebelum dan sesudah intervensi.
               "Intervensi baru bisa dianggap berhasil jika nilai Ro semakin turun setelah
               intervensi, hingga mendekati nol, yang artinya tidak lagi terjadi penularan," ujar
               Dicky.

               Sementara itu, epidemiologdari Universitas Padjadjaran, Panji Fortuna
               Hadisoemarto, berpendapat keterbatasan dan kelambatan tes spesimen membuat
               data yang disajikan pemerintah tidak sesuai dengan keadaan di lapangan.
               Akibatnya, klaim pembatasan sosial berhasil menurunkan kasus baru Covid-19,
               menurut dia, sejauh ini belum terukur.

               Panji berharap pemerintah menyingkirkan opsi pelonggaran pembatasan sosial
               sampai jumlah pasien positif yang menjalani perawatan di suatu daerah hanya 10
               kasus. "Minimal, untuk Jakarta ada 10 kasus aktif, itu sudah aman. Yang kita tahu
               sekarang, tingkat pengujian masih sangat rendah dan kasus aktif masih banyak,"
               ujarnya.












                                                      Page 151 of 211.
   146   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156